Jakarta, CNBC Indonesia - Perebutan kursi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berikutnya kini memasuki babak krusial.

Sejumlah pengamat menilai kompetisi kali ini sangat ketat dan sulit untuk memprediksi siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Pasalnya, kekuatan-kekuatan besar dunia masih terpecah suara terkait siapa sosok yang paling tepat memimpin badan dunia tersebut.

Berdasarkan aturan main, seorang kandidat harus mengantongi minimal 9 suara dari 15 negara anggota Dewan Keamanan (DK) PBB sebelum namanya diajukan ke Majelis Umum untuk disahkan.

Namun, tantangan terbesar bukan sekadar mengumpulkan suara, melainkan menghindari hak veto dari lima anggota tetap DK PBB. Masa depan kepemimpinan PBB kini berada sepenuhnya di tangan Amerika Serikat, Inggris, China, Prancis, dan Rusia.

Meskipun secara konvensi tidak tertulis kursi Sekjen PBB berikutnya seharusnya menjadi jatah bagi kawasan Amerika Latin, dinamika politik memunculkan nama-nama kuat dari berbagai latar belakang, termasuk satu kandidat dari luar kawasan tersebut. Nama Rafael Grossi, kepala badan pengawas nuklir PBB saat ini, menjadi salah satu yang paling sering disebut-sebut oleh para pengamat.

Berikut adalah profil enam kandidat yang tengah bersaing memperebutkan posisi tertinggi di PBB:

1. Michelle Bachelet

Sosok sosialis berusia 74 tahun ini memiliki rekam jejak mentereng sebagai presiden wanita pertama Chili (2006) dan mantan Kepala Hak Asasi Manusia PBB. Sebagai penyintas penyiksaan rezim militer Augusto Pinochet, Bachelet menegaskan bahwa Sekjen PBB harus memiliki "suara moral" yang kuat.

Kendati didukung Meksiko dan Brasil, posisinya di dalam negeri melemah setelah pemerintah sayap kanan Chili di bawah Presiden Jose Antonio Kast menarik dukungannya. Ia juga menghadapi penolakan dari China terkait laporannya tentang Uyghur, serta kritik dari AS terkait pandangannya soal hak aborsi.

Mantan Menteri Luar Negeri Ekuador, Maria Fernanda Espinosa. (Dok. maria-fernanda-espinosa.com)Mantan Menteri Luar Negeri Ekuador, Maria Fernanda Espinosa. (Dok. maria-fernanda-espinosa.com) Foto: (Dok. maria-fernanda-espinosa.com)

2. Maria Fernanda Espinosa

Mantan Menteri Luar Negeri Ekuador berusia 61 tahun ini pernah menjabat sebagai Presiden Majelis Umum PBB. Espinosa mendorong reformasi mendalam di tubuh PBB dan mengusulkan pembentukan sistem "peringatan dini" untuk mendeteksi serta mencegah konflik sebelum pecah. Meski memiliki visi yang kuat, pencalonannya didukung oleh Antigua dan Barbuda, bukan oleh negaranya sendiri.

3. Rafael Grossi

Diplomat karier berusia 65 tahun ini menjabat sebagai Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sejak 2019. Pengalamannya berada di pusaran konflik global-seperti program nuklir Iran dan krisis pembangkit nuklir Zaporizhzhia di Ukraina-menjadi modal kuatnya.

Grossi memilih tidak mundur dari IAEA selama berkampanye karena menganggapnya sebagai "pengabaian tugas". Ia dikenal vokal mendorong reformasi PBB dan meyakini bahwa seorang Sekjen harus mengambil pendekatan yang lebih langsung di lapangan.

4. Rebeca Grynspan

Mantan Wakil Presiden Kosta Rika berusia 70 tahun ini saat ini memimpin badan perdagangan dan pembangunan PBB (UNCTAD), namun memilih mengambil cuti untuk fokus berkampanye. Grynspan memiliki prestasi diplomatik besar saat berhasil menengahi Black Sea Grain Initiative antara Rusia dan Ukraina pada 2022. Putri dari penyintas Holocaust ini mengkritik PBB yang dinilainya telah berubah menjadi "organisasi yang takut mengambil risiko" (risk-conservative).

Kepala Badan Atom Internasional, Rafael Grossi. (REUTERS/Eduardo Munoz)Kepala Badan Atom Internasional, Rafael Grossi. (REUTERS/Eduardo Munoz) Foto: REUTERS/Eduardo Munoz

5. Carolyn Rodrigues-Birkett

Sebagai kandidat termuda (52 tahun), mantan Menteri Luar Negeri Guyana yang kini menjabat Duta Besar untuk PBB ini menekankan pentingnya mengembalikan "kredibilitas" PBB di panggung global. Menurutnya, PBB tidak boleh hanya dinilai dari lensa perdamaian dan keamanan saja, tetapi juga kontribusi luasnya di bidang pembangunan dan hak asasi manusia.

6. Macky Sall

Mantan Presiden Senegal berusia 64 tahun ini menjadi satu-satunya kandidat di luar kawasan Amerika Latin. Diusulkan oleh Burundi selaku ketua Uni Afrika saat ini, Sall akhirnya mengamankan dukungan dari negaranya sendiri minggu ini. Menekankan keterkaitan erat antara perdamaian dan pembangunan, Sall maju ke bursa pencalonan di bawah bayang-bayang kritik tajam. Otoritas Senegal menuduhnya melakukan tindakan represif berdarah terhadap demonstrasi politik yang menewaskan puluhan orang sepanjang tahun 2021 hingga 2024.

(lih/haa)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]