Mata air Kali Wonosari, oase di tengah kekeringan Gunungkidul
Mata air Kali Wonosari, oase di tengah kekeringan Gunungkidul
Sabtu, 25 Juli 2026 18:30 WIB
Seorang warga mengambil air menggunakan galon bekas di mata air Kali Wonosari, Dusun Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (23/7). ANTARA/Agung Dwi Prakoso
Yogyakarta (ANTARA) - Di kawasan perbukitan Dusun Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, terdapat sebuah mata air yang oleh warga setempat dikenal sebagai thuk Kali Wonosari.
Area mata air ini cukup luas. Namun, saat musim kemarau tiba, debit airnya menyusut drastis hingga nyaris mengering.
Mata air tersebut bukanlah sumber air yang jernih sebagaimana yang kerap tergambar dalam iklan air minum. Secara kasatmata, airnya tampak keruh, jauh dari kesan bening. Meski demikian, bagi warga sekitar, mata air itu menjadi penopang utama kehidupan ketika kekeringan melanda.
Setiap musim kemarau, lokasi itu selalu ramai didatangi warga. Mereka datang membawa jeriken maupun galon bekas air mineral untuk diisi dan dibawa pulang. Aktivitas yang telah berlangsung turun-temurun itu dikenal dengan sebutan ngangsu banyu.
Di sebuah sudut kolam mata air itu berdiri dua bilik mandi sederhana yang terbuat dari semen tanpa atap dan tanpa cat. Bilik laki-laki dan perempuan hanya dipisahkan tembok setinggi sekitar dua meter. Untuk mandi, warga harus menimba air menggunakan ember yang diikat dengan tali agar dapat menjangkau permukaan air di dasar kolam.
Meski airnya keruh, warga menganggap mata air Kali Wonosari sebagai oase di tengah kekeringan. Hampir setiap hari tempat itu tak pernah sepi, terutama ketika musim kemarau mulai memicu krisis air bersih.
Warga rela antre demi mendapatkan air. Ada yang memodifikasi sepeda motor untuk mengangkut jeriken, ada pula yang menggendong galon menggunakan jarik (kain batik panjang), pemandangan yang masih lazim dijumpai di pedesaan Gunungkidul.
Ngangsu banyu
Di bawah rindangnya pohon ketos, laban, dan munggur yang mengelilingi kolam, Wiwin (30) tampak menggendong galon bekas air mineral menggunakan jarik. Dengan langkah hati-hati, dia menuruni tebing menuju sumber air, lalu mengisi galon tersebut dari kubangan kecil. Dari sela-sela bebatuan, air mengalir perlahan melalui bambu yang dibelah sebagai saluran sederhana.
"Sudah dari dulu, sejak zaman nenek moyang, warga di sini ngangsu banyu karena setiap musim kemarau air pasti susah," kata Wiwin sembari mengencangkan jarik yang melilit tubuhnya.
Sejak Mei, ketika tempat tinggalnya mulai kekurangan air, Wiwin bolak-balik empat hingga lima kali sehari dari rumah menuju mata air Kali Wonosari untuk mengambil air.
Biasanya, ia berangkat pukul 05.00 WIB sebelum memulai aktivitas sehari-hari. Air yang dibawanya digunakan untuk memasak dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Jarak mata air itu sekitar dua kilometer dari tempat tinggalnya.
"Hampir setiap hari saya membawa jeriken dan galon bekas air mineral, naik turun ke sini untuk memenuhi kebutuhan air di rumah," ujarnya.
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026