Psikolog ungkap validasi medsos picu keinginan untuk diistimewakan

Rabu, 23 September 2026 12:35 WIB

Image Print

Ilustrasi - Penggunaan media sosial. ANTARA/Freepik/am.

Jakarta (ANTARA) - Kebiasaan menerima validasi instan di media sosial berisiko memicu perilaku merasa berhak atau selalu menuntut perlakuan istimewa (entitlement) yang dapat terbawa ke dalam interaksi kehidupan nyata, demikian diungkapkan Guru Besar Psikologi Swansea University, Phil Reed Ph.D.

Dikutip dari tulisannya di Psychology Today, Minggu (20/9) waktu setempat, Reed memaparkan bahwa fitur-fitur dasar media sosial seperti tombol suka (like), komentar, jumlah penonton, hingga pengikut, memberikan respons kilat yang memicu kepuasan instan (instant gratification).

Arus umpan balik yang konsisten tersebut menciptakan sistem ganjaran sosial yang sangat kuat di otak. Dalam sejumlah riset neurosains, stimulasi penghargaan digital tersebut bahkan dapat memicu reaksi saraf yang lebih kuat dibandingkan ganjaran berupa materi atau uang.

Menurut Reed, validasi daring ini kerap menjadi penguat emosional yang dominan, terutama bagi individu dengan ciri kepribadian narsistik yang haus akan pengakuan sosial.

Seiring berjalannya waktu, pengguna yang terbiasa dihujani pujian digital atas aktivitas sehari-hari mulai mengharapkan tingkat pengakuan yang sama di dunia nyata, baik di lingkungan kerja, kampus, maupun relasi personal.

"Kondisi ini menimbulkan jurang frustrasi (frustration gap) ketika interaksi sehari-hari gagal menyamai dunia maya yang serba cepat dan serba instan," kata Reed.

Ketika harapan tersebut tidak terwujud di dunia nyata, kekecewaan dapat dengan cepat berubah menjadi kemarahan atau amarah yang didasari rasa berhak diistimewakan.

Reed juga menyoroti bahwa sebagian besar konten di media sosial merupakan hasil kurasi ketat yang hanya menonjolkan pencapaian akhir tanpa memperlihatkan kerja keras, pengorbanan, serta kegagalan di baliknya. Hal ini mendistorsi cara pandang seseorang terhadap proses pencapaian yang sebenarnya.

Guna mengatasi dampak psikologis tersebut, Reed menyarankan pengguna untuk membangun kesadaran kritis saat berselancar di dunia maya.

Masyarakat diimbau untuk lebih menghargai proses dan kerja nyata ketimbang sekadar mengejar visibilitas digital, serta menumbuhkan rasa syukur dan ketangguhan mental di era ketika validasi selalu tersedia hanya dengan satu klik.

Penerjemah: Farika Nur Khotimah

Pewarta : -
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.