PT Timah - Alobi perkuat penyelamatan satwa endemik Babel korban karhutla - ANTARA News Bangka Belitung
Pangkalpinang (ANTARA) - PT Timah (Persero) Tbk bersama Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi Air Jangkang memperkuat penyelamatan satwa endemik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang menjadi korban dari terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau ekstrim di daerah itu.
"Saat ini, kita sudah menyelamatkan satwa seperti trenggiling, elang, kukang, tarsius, serta berbagai jenis burung yang terdampak karhutla," kata Ketua Alobi Foundation Babel, Langka Sani di Pangkalpinang, Jumat.
Ia mengatakan Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Kepulauan Bangka Belitung tidak hanya mengancam vegetasi, tetapi juga habitat dan keselamatan satwa liar endemik Pulau Bangka dan Belitung.
"Satwa endemik ini diselamatkan dan direhabilitasi di Kampoeng Reklamasi Air Jangka Bangka," katanya.
Ia menyatakan satwa yang paling banyak ditemukan dalam kondisi membutuhkan pertolongan adalah kukang dan tarsius. Kedua satwa tersebut memiliki karakteristik pergerakan yang membuatnya cukup rentan ketika habitatnya dilanda kebakaran.
Tarsius, misalnya, hanya mampu berpindah dengan lompatan sekitar tiga meter. Ketika kawasan di sekitarnya terkepung api, ruang gerak satwa ini menjadi sangat terbatas karena bergantung pada pepohonan yang masih tersisa.
Sementara itu, kukang Bangka yang merupakan satwa endemik Bangka memiliki pergerakan yang lebih lambat. Satwa ini berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya dengan cara memanjat atau berjalan di atas pepohonan sehingga rentan ketika kawasan hutan terbakar.
“Untuk satwa endemik kita, kita memiliki kukang Bangka. Mereka agak sedikit pelan gerakannya dibanding satwa lainnya dan tidak bisa seperti tarsius yang meloncat. Mereka dari pohon ke pohon dengan cara memanjat atau berjalan di atas pohon. Ini sangat berbahaya bagi mereka saat kebakaran,” ujarnya.
Menurut dia meningkatnya kejadian kebakaran hutan membuat satwa liar kehilangan habitat alaminya. Satwa yang berusaha menyelamatkan diri kemudian keluar dari kawasan hutan dan tidak jarang masuk ke permukiman masyarakat.
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena Bangka Belitung merupakan wilayah kepulauan dengan habitat satwa liar yang relatif terbatas dan terfragmentasi. Ketika salah satu kawasan hutan terbakar, satwa akan mencari lokasi yang lebih aman, namun pergerakannya dapat terhambat oleh jalan maupun permukiman.
“Ketika habitatnya terbakar, otomatis membuat satwa liar keluar dari habitat alaminya. Mereka mencoba keluar dari zona kebakaran untuk mencari habitat yang baru, tetapi habitatnya terpotong oleh jalan atau permukiman masyarakat,” katanya.
Pewarta: Aprionis
Uploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.