Angka tersebut menjadi jumlah korban sipil bulanan tertinggi yang tercatat di Ukraina sejak pemantauan dimulai pada April 2022.

Serangan Rusia dilaporkan semakin intensif, termasuk penggunaan rudal balistik yang dinilai sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Ibu kota Kyiv juga menjadi sasaran serangan berulang dalam beberapa waktu terakhir.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Rusia menggunakan persenjataan dalam jumlah besar selama sepekan terakhir.

Menurut Zelensky, pasukan Rusia meluncurkan sekitar 1.700 drone, lebih dari 1.630 bom udara berpemandu, serta sekitar 50 rudal balistik dalam periode tersebut.

"Kita harus menetralisasi strategi teror Rusia menggunakan rudal balistik," kata Zelensky melalui media sosial pada 26 Juli.

Zelensky juga mendesak negara-negara mitra Ukraina segera mengirimkan rudal pencegat untuk memperkuat sistem pertahanan udara negaranya.

"Untuk menyelamatkan nyawa, semua rudal pencegat harus berada dalam sistem pertahanan udara Ukraina sekarang," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa rudal-rudal tersebut seharusnya tidak hanya tersimpan di gudang negara-negara mitra Ukraina.

Anak 10 Tahun Tewas dalam Serangan Drone

Salah satu serangan terbaru terjadi di Chernihiv. Otoritas Ukraina mengatakan pasukan Rusia menyerang sebuah supermarket menggunakan drone.

Serangan tersebut menewaskan seorang anak berusia 10 tahun dan satu orang dewasa. Tiga orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Insiden tersebut kembali menyoroti dampak perang terhadap warga sipil, terutama ketika serangan udara Rusia semakin sering menyasar wilayah perkotaan dan infrastruktur sipil.

Pemerintah Ukraina terus meminta bantuan militer tambahan dari negara-negara Barat, khususnya sistem pertahanan udara dan rudal pencegat untuk menghadapi serangan rudal balistik dan drone Rusia.

Ukraina Balas Serang Infrastruktur Energi Rusia

Di tengah gempuran Rusia, militer Ukraina juga meningkatkan serangan jarak jauh terhadap target-target strategis di wilayah Rusia.

Pasukan Ukraina dilaporkan menggunakan drone dan rudal untuk menyerang fasilitas energi Rusia. Sejumlah kilang minyak disebut mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Sebagai respons, Rusia memperpanjang larangan ekspor diesel hingga akhir tahun. Moskow juga dilaporkan melakukan serangan terhadap sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di wilayah utara Ukraina.

Selain itu, Rusia meningkatkan serangan terhadap pelabuhan-pelabuhan Ukraina di sepanjang Laut Hitam dan Sungai Danube, yang merupakan jalur penting bagi perdagangan dan ekspor negara tersebut.

Rangkaian serangan balasan ini semakin memperlihatkan bahwa perang Rusia-Ukraina tidak hanya berlangsung di garis depan, tetapi juga telah meluas ke sektor energi, logistik, dan infrastruktur strategis.

Krisis Bahan Bakar Menghantui Rusia

Institute for the Study of War (ISW), lembaga kajian asal Amerika Serikat, menyoroti dampak serangan terhadap sektor energi Rusia.

Dalam analisis yang diterbitkan pada 25 Juli, ISW menyebut klaim pejabat Rusia bahwa kondisi ekonomi mulai stabil dan krisis bahan bakar dapat diatasi tidak sepenuhnya mencerminkan situasi di lapangan.

Sejumlah wilayah di Rusia, termasuk daerah yang berada di bawah pendudukan Rusia, masih menghadapi kekurangan bahan bakar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perang telah memberikan tekanan terhadap kedua belah pihak. Ukraina menghadapi peningkatan serangan udara dan korban sipil, sementara Rusia juga menghadapi gangguan pada sektor energi dan distribusi bahan bakar.

Dengan jumlah korban sipil Ukraina yang mencapai rekor bulanan dan intensitas penggunaan drone serta rudal balistik yang semakin tinggi, perang Rusia-Ukraina memasuki periode yang semakin berbahaya.

Bagi Ukraina, tantangan terbesar kini adalah memperkuat pertahanan udara untuk melindungi kota-kota dan warga sipil dari gelombang serangan Rusia. Sementara bagi Rusia, serangan balasan Ukraina terhadap fasilitas energi menunjukkan bahwa perang jarak jauh terus berkembang dan berpotensi semakin mengganggu stabilitas ekonomi kedua negara.

Sumber: Asiatoday