Resmikan Rumah Maggot di Depok, Garudafood Dorong Kemandirian Warga Kelola Sampah Organik
Seremoni penyerahan rumah maggot ditandai dengan pemotongan pita secara simbolis, di antaranya oleh Dian Astriana selaku Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood, Aminudi selaku CEO Biomagg, sebagai mitra pelaksana budi daya maggot, Mustakim selaku Camat Pancoran Mas, Herliana Maharani selaku Lurah Depok Jaya, dan Reni Siti Nuraeni selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok.
Momen ini menjadi penanda babak baru bagi warga Depok Jaya untuk mengelola sampah organik rumah tangga secara mandiri dan produktif.
"Rumah Maggot Garudafood merupakan wujud komitmen Garudafood dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan melalui pendekatan Creating Shared Value (CSV), dengan menciptakan manfaat bersama bagi masyarakat, lingkungan, dan perusahaan," ujar Dian Astriana.
Baca Juga: Dukung SNI Goes to Campus, Garudafood Edukasi Mahasiswa IPB University Mengenai Pentingnya Standardisasi dan Keamanan Pangan
Kegiatan dilanjutkan dengan edukasi budi daya maggot Black Soldier Fly (BSF) dan sesi berbagi pengalaman dari para ketua kelompok binaan Garudafood dari wilayah lain.
Melalui sesi ini, peserta saling bertukar praktik terbaik, mengulik berbagai tantangan serta strategi pengelolaan budi daya berkelanjutan sebagai bekal bagi kelompok binaan baru di Depok Jaya.
Salah satu penerima manfaat program, sekaligus ketua kelompok budi daya maggot di Depok Jaya, Hadijah, menuturkan perjalanan kelompoknya hingga bisa mendirikan rumah maggot tersebut.
"Awalnya kami menimba ilmu dari kelompok binaan Kelurahan Limo, hingga kemudian dikenalkan dengan Biomagg dan mendapat dukungan penuh dari Garudafood untuk mendirikan rumah maggot ini. Panen perdana kami berhasil mencatatkan 20 kilogram maggot. Namun, yang paling mengharukan adalah melihat antusiasme warga sekitar yang kini secara mandiri membawa sampah organik mereka ke sini. Rumah Maggot Garudafood ini terbukti hadir sebagai solusi nyata dalam mengurai permasalahan sampah organik di lingkungan kami," jelas Hadijah.
Sejak diinisiasi tahun 2024, Program Kampung Wirausaha Maggot Garudafood telah berkembang hingga menjangkau tujuh kelurahan di Kota Depok, Jawa Barat, yaitu Jatijajar, Sukmajaya, Depok Jaya, Limo, Meruyung, Tanah Baru, dan Jatimulya, dengan melibatkan lebih dari 60 kepala keluarga.
Baca Juga: Garudafood Gandeng Pemkab Sumedang Berdayakan Petani Kacang hingga Budidaya Sapi Perah
Berawal dari proyek percontohan di Kelurahan Jatijajar, program ini telah bertransformasi menjadi gerakan masyarakat yang menginspirasi perluasan inisiatif serupa ke berbagai wilayah lainnya.
Hingga Juni 2026, program ini tercatat telah menghasilkan 9,7-ton maggot BSF, mengelola lebih dari 100-ton sampah organik rumah tangga, serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon sebesar 325-ton CO₂e. Capaian ini menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis komunitas mampu menghadirkan dampak lingkungan yang terukur sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Ke depan, Garudafood berkomitmen mereplikasi Program Kampung Wirausaha Maggot ke berbagai wilayah guna memperluas manfaat bagi masyarakat. Sejalan dengan itu, Garudafood juga akan membangun ekosistem maggot yang terintegrasi melalui penguatan budi daya dan pengembangan produk turunan, seperti pakan ternak dan pupuk organik.
Langkah ini diharapkan dapat menciptakan nilai tambah, membuka peluang usaha baru, serta meningkatkan kesejahteraan kelompok binaan secara berkelanjutan.
Rumah Maggot Garudafood dirancang untuk mendukung seluruh proses budi daya, dari fase pembesaran hingga reproduksi. Bangunan terdiri dari rak-rak berisi wadah maggot usia 5-14 hari yang siap panen dan wadah khusus untuk maggot dewasa yang berubah menjadi pupa hingga berwarna hitam, tanda siap menjadi lalat dewasa.
Baca Juga: Garudafood Ajak 100 Santri Istimewa Belanja Baju Lebaran dan Salurkan Donasi Pendidikan
Secara umum, rumah maggot terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah rak penyimpanan bak berisi maggot yang mengurai sampah sisa makanan rumah tangga. Bagian kedua adalah insectarium, tempat lalat BSF tumbuh, kawin, dan bertelur, sehingga siklus budi daya bisa berlangsung mandiri tanpa perlu bibit dari luar.
Dengan desain yang matang dan pendampingan berkelanjutan, Rumah Maggot Garudafood diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi pengembangan kampung wirausaha maggot di wilayah-wilayah lain, sejalan dengan komitmen perusahaan untuk terus memperkuat sinergi antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan.
"Kami tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan dari pemerintah kelurahan dan kecamatan, pendampingan teknis dari Biomagg selaku mitra pendamping, serta yang terpenting antusiasme warga, adalah kunci utama keberlanjutan program ini. Ke depan, kami ingin memastikan setiap rumah maggot yang dibangun benar-benar dimiliki dan dikelola oleh warga, tidak hanya sekadar fasilitas yang kami tinggalkan begitu saja," jelas Dian Astriana, melalui keterangannya, Kamis (23/7/2026).
Peresmian Rumah Maggot Garudafood di Depok Jaya diharapkan menjadi titik awal bagi tumbuhnya kemandirian warga dalam mengelola sampah organik sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Garudafood bersama mitra berkomitmen untuk terus mendampingi kelompok binaan baru ini hingga mampu berdiri mandiri, sebagaimana yang telah dicapai oleh enam kelurahan sebelumnya. Sekaligus membuka jalan bagi replikasi program di wilayah-wilayah lain di Indonesia sebagai bagian dari upaya jangka panjang perusahaan mendukung ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan.