Liputan6.com, Jakarta - Di antara derasnya film Indonesia bergenre horor yang tayang pada pengujung September ini, Falcon Pictures datang dengan sajian drama keluarga bertajuk Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?

Adaptasi film Korea Selatan Wedding Dress (2010) ini disutradarai oleh Herwin Novianto yang sebelumnya menggarap Kang Mak from Pee Mak, Kembang Api, juga 2nd Miracle in Cell No. 7. Filmnya mengisahkan tentang Stella (Marsha Timothy) seorang ibu tunggal yang membesarkan putri semata wayangnya, Rere (Fara Shakila).

Demi sang buah hati, ia bekerja keras di butik milik Prince (Ivan Gunawan) sebagai perancang gaun pengantin sejak suaminya meninggal dunia. Meski sibuk bekerja, sejatinya hidup Stella ia curahkan demi sang buah hati. Ia menjalaninya dengan penuh senyum dan keceriaan, tapi ada satu rahasia yang ia simpan rapat-rapat.

Stella didiagnosis menderita kanker stadium empat yang telah menyebar. Hidupnya bahkan divonis tak lama lagi.

Namun Stella tak punya waktu untuk berduka. Di sisa waktunya, ia ingin menyiapkan sang buah hati untuk hidup mandiri, sekaligus mengukir kenangan indah bersama.

Melumerkan Kerasnya Hati Rere

Hanya saja, ini bukan perkara mudah.

Apalagi belakangan sikap Rere tampak berbeda. Ia enggan berbaur dengan teman sekelasnya, juga berselisih dengan sepupunya. Deretan kata tajam bahkan ia sampaikan kepada sang ibu, yang membuat hati Stella bak teriris sembilu. “Aku juga enggak mau hidup sama ibu selamanya,” begitu salah satu kata yang diucap Rere, tanpa ia tahu arti di baliknya.

Stella tak mau Rere hidup sendirian. Apakah ia berhasil melumerkan hati sang anak dalam waktu yang sempit ini?

Tema yang Dekat dengan Kehidupan

Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? (Falcon Pictures)

Perbesar

Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? (Falcon Pictures)

Film Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? benar-benar setia pada Wedding Dress. Plotnya masih serupa dengan film ini, begitu pula dengan banyak adegan kunci yang kembali ditampilkan dalam versi Indonesia-nya. Di sisi lain, Film Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu sejatinya adalah film yang plotnya mudah terbaca, meskipun belum menyaksikan film aslinya.

Namun di luar itu, film ini memang memiliki tema yang kuat dan terasa begitu dekat dengan hampir semua orang. Mayoritas dari kita adalah Rere, seorang anak yang mungkin menilai keberadaan ibu adalah sebuah kejamakan, dianggap memang begitu adanya—taken for granted. Sampai akhirnya muncul kesadaran bahwa ibu kita fana—suatu saat kematian akan menjemputnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Dari situ, dunia yang kita kenal sebagai anak runtuh—bagaimana jadinya bila tak ada ibu? Di sisi lain, sebagian dari penonton mungkin telah merasakan hidup Stella, sosok orangtua yang mengemban tugas untuk menyiapkan anaknya agar siap untuk hidup mandiri ke dunia. Tapi meski ini adalah sebuah keniscayaan, berat rasanya benar-benar melepas anak ke dunia—terutama bila waktu terasa begitu memburu. Tak pelak, perjalanan Stella dan Rere terasa begitu menggetarkan hati, menghadirkan secara halus ruang perenungan dalam hati penonton tentang hubungan mereka dengan orang tua dan terutama ibu.