● Pelayanan persalinan manusiawi di Indonesia masih rendah karena maraknya kesenjangan dan perlakuan diskriminatif.

● Prosedur medis berulang sering dilakukan tanpa komunikasi terbuka, sehingga memicu trauma.

● Indonesia perlu memadukan standar pelayanan persalinan yang manusiawi ke dalam sistem kesehatan.


Kesehatan dan keselamatan perempuan saat melahirkan merupakan bagian dari hak asasi perempuan. Namun, pelayanan persalinan tidak cukup hanya memastikan ibu dan bayi selamat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pentingnya respectful maternity care (RMC), yaitu pelayanan persalinan yang menghormati martabat, privasi, dan hak perempuan untuk mengambil keputusan atas tubuhnya sendiri.

Pelayanan ini penting untuk membangun kepercayaan antara perempuan dan tenaga kesehatan. Dengan komunikasi yang terbuka, perempuan dapat menyampaikan kebutuhan maupun keluhan, sementara tenaga kesehatan bisa meresponsnya dengan tepat. Intinya, pelayanan harus berpusat pada kebutuhan perempuan (women centre care).

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa intervensi medis, seperti operasi sesar, induksi persalinan, dan episiotomi (pengguntingan jaringan di sekitar lubang vagina untuk memperlebar jalan lahir), dapat berkaitan dengan pengalaman persalinan yang kurang menyenangkan. Tindakan tersebut bisa terasa menyakitkan, terlebih jika dilakukan tanpa penjelasan yang memadai.

Ketika perempuan tidak memahami alasan suatu tindakan atau tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, mereka dapat merasa hak dan otonominya diabaikan. Tindakan medis yang diperlukan sekalipun tetap perlu disertai komunikasi yang baik dan penghormatan terhadap perempuan.

Bagaimana penelitian RMC di Indonesia?

Penelitian tentang RMC di Indonesia masih terbatas. Padahal, persalinan di Indonesia cenderung menggunakan pendekatan intervensi medis dan perempuan memiliki sedikit ruang dalam pengambilan keputusan. Data 2022 melaporkan bahwa lebih dari 33% perempuan di Indonesia mendapatkan intervensi episiotomi saat persalinan pervaginam.

Selain itu, persentase persalinan sesar di Indonesia juga meningkat mulai 2012 (12%) sampai 2017 (17%). Angka ini terus meningkat dari 2019 hingga sekarang. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa metode persalinan ini meningkat selama implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


Read more: Mengapa persalinan sesar naik drastis sejak ada JKN dan apa dampaknya bagi ibu?


Penelitian kami menemukan bahwa rerata skor RMC hanya 62.63 dari 100. Angka ini relatif rendah dibandingkan dengan beberapa negara lainnya seperti Iran (63,42%),Ethiopia (66%) , India (71%), dan Tanzania (85%).

Menariknya, terdapat kesenjangan yang cukup besar antardomain RMC pada penelitian ini. Friendly care (pelayanan yang ramah) memperoleh skor yang relatif tinggi, yaitu 85.78, tetapi discrimination-free care (pelayanan tanpa diskriminasi) hanya 30.32, sedangkan abuse-free care (pelayanan yang bebas kekerasan) dan timely care (pelayanan tepat waktu) masing-masing hanya 47.50.

Walaupun discrimination-free care tidak berpengaruh secara signifikan, angka tersebut tetap mengindikasikan bahwa perempuan belum tentu merasakan pelayanan maternitas yang sama dan setara.

Pelayanan yang ramah belum tentu ‘respectful’

Dalam penelitian kami, perempuan yang diberi kesempatan memilih posisi persalinan memiliki skor RMC lebih tinggi. Sebaliknya, skor cenderung lebih rendah ketika mereka tidak bisa memilih posisi yang dirasa nyaman.

Hal serupa terlihat pada pemeriksaan vagina berulang untuk memantau perkembangan persalinan. Pemeriksaan ini dapat diperlukan secara medis, tetapi cara melakukannya juga penting. Perempuan perlu memahami tujuan pemeriksaan dan merasa dilibatkan. Dalam penelitian kami, 46,4% perempuan yang menjalani pemeriksaan berulang memiliki skor RMC yang lebih rendah.

Episiotomi juga berkaitan dengan skor RMC yang lebih rendah. Sebanyak 32,9% perempuan dalam penelitian menjalani tindakan ini. Padahal, WHO menegaskan bahwa episiotomi rutin sebenarnya tidak direkomendasikan pada persalinan pervaginam.

Tindakan ini juga seharusnya dilakukan atas indikasi klinis dan berdasarkan informasi (informed consent) dari pasien. Tenaga kesehatan wajib menjelaskan setiap langkah, meminta izin sebelum menyentuh area genitalia, menjaga penutupan tubuh dan privasi, serta menggunakan bahasa yang sopan. Studi etnografi kami di sebuah rumah sakit di Surabaya menemukan bahwa perempuan kerap tidak mengetahui alasan episiotomi sehingga yang membekas adalah rasa sakit dan trauma.

Hal yang lebih kompleks terjadi ketika seorang perempuan harus menjalani persalinan sesar, terutama ketika keputusan tersebut muncul secara tiba-tiba. Dalam keadaan darurat, tenaga kesehatan bertindak cepat sehingga terkadang proses komunikasi yang baik tidak bisa terbangun. Padahal, mengacu pada teori women-centered care, relasi yang kuat antara perempuan bersalin dan tenaga kesehatan terbangun sejak awal kehamilan.

Dalam penelitian ini, metode persalinan secara signifikan berhubungan dengan skor RMC. Secara khusus, perempuan yang menjalani persalinan sesar emergensi menunjukkan skor RMC yang lebih rendah. Penelitian yang kami laksanakan sebelumnya juga mengonfirmasi hal ini.


Read more: Riset tunjukkan mayoritas persalinan selama pandemi melalui sesar, hak asasi kesehatan perempuan terampas


Komplikasi bukan alasan mengabaikan pelayanan manusiawi

Penelitian kami juga menunjukkan bahwa persalinan lama (prolonged labour) dan perdarahan setelah melahirkan berkaitan erat dengan skor RMC yang lebih rendah. Perempuan dengan komplikasi menghadapi rasa sakit, kecemasan, dan ketidakpastian, sekaligus kemungkinan menjalani lebih banyak tindakan medis.

Perempuan memiliki skor RMC yang rendah bukan hanya karena tindakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, melainkan karena kondisi klinis yang dialami perempuan.

Tenaga kesehatan tentu perlu memprioritaskan penanganan komplikasi untuk mencegah kematian dan masalah kesehatan serius. Namun, perempuan juga membutuhkan penjelasan, dukungan, dan penghormatan selama proses tersebut. Komplikasi seharusnya menjadi alasan untuk memperkuat pelayanan yang manusiawi, bukan menghentikannya.

Karena itu, RMC perlu diintegrasikan ke dalam sistem pelayanan kesehatan maternal di Indonesia. Pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan terhadap pelayanan ini juga perlu diperkuat.

Hingga saat ini, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) belum memiliki inisiatif untuk mendorong anggotanya memberikan pelayanan berbasis RMC. Padahal, Organisasi Bidan Internasional (ICM) telah memberikan pedoman dan pernyataan kepada bidan di dunia untuk menerapkan RMC.


Read more: Seperempat ibu depresi setelah melahirkan, tapi penanganannya belum optimal. Mengapa?


Selain itu, temuan terkait potensi penggunaan berlebih dan tindakan medis yang tidak perlu di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat operasi sesar di rumah sakit rujukan terbilang tinggi (65,98% pada 2022-2023). Meski kondisi medis pasien masih menjadi penentu paling dominan, faktor-faktor non-medis justru makin menonjol pascareformasi tarif 2023. Ini termasuk kepemilikan asuransi subsidi, kelas perawatan, jalur rujukan, serta status rumah sakit swasta.

Artinya, rumah sakit seharusnya melakukan audit secara berkala atas indikasi klinis tindakan medis, menilai kelengkapan dokumentasi indikasi dan informed consent, dan mengintegrasikan indikator keselamatan pasien serta pengalaman persalinan. Dengan begitu, kekerasan selama masa kehamilan, proses persalinan, dan masa nifas, tidak perlu menimpa perempuan.