Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Arab Saudi, VIVA – Serangan terhadap bandara di Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir telah mengacaukan jadwal penerbangan di seluruh negara tersebut. Serangan ini menandai eskalasi berbahaya dalam konflik berkepanjangan antara Arab Saudi dan kelompok pemberontak Houthi dari Yaman.

Baca Juga

Bahkan, kurang dari sehari serangan di Bandara Riyadh yang menewaskan 13 orang, kelompok Houthi mengeluarkan peringatan potensi serangan terburuk masih akan terjadi. Perkembangan ini menambah kekhawatiran di kawasan yang sudah menghadapi kebuntuan berkepanjangan dalam perang lainnya, sementara perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menunjukkan kemajuan berarti.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Situasi ini juga menjadi tantangan bagi Arab Saudi, yang selama bertahun-tahun berupaya memperkuat dominasinya di kawasan sekaligus membangun citra baru sebagai negara yang aman dan menarik bagi investasi serta peluang bisnis.

Baca Juga

Sejumlah pakar menilai serangan tersebut menunjukkan adanya celah dalam sistem pertahanan Arab Saudi. Beberapa laporan bahkan menyebut persediaan rudal pencegat negara itu mulai menipis. Penyelesaian krisis ini mungkin sulit tercapai tanpa kesepakatan untuk mengakhiri perang yang lebih luas antara Washington dan Teheran. Namun, sekalipun kesepakatan itu tercapai, persoalan tersebut belum tentu dapat diselesaikan sepenuhnya.

"Dalam beberapa hal, Houthi pernah dan masih menjadi kelompok proksi sekaligus mitra Iran. Namun, mereka semakin menunjukkan sikap independent. Dengan cara yang agak aneh, hal ini justru sangat berbahaya. Jika Houthi tidak lagi menjadi kelompok proksi Iran, pengaruh terhadap mereka tidak bisa lagi dilakukan hanya dengan membuat kesepakatan dengan Iran. Mereka juga sangat ideologis, sangat bermusuhan dengan monarki Arab Saudi, dan telah menjadi masalah besar tersendiri,"kata mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi, Michael Ratney, kepada ABC News dikutip Kamis (15/10/2026).

Baca Juga

Mengapa Houthi dan Arab Saudi Berperang?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada 2015, Arab Saudi ikut terlibat dalam perang saudara di Yaman dengan mendukung pemerintah yang diakui secara internasional untuk melawan Houthi.

Kelompok paramiliter tersebut, yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh sejumlah negara, menuntut otonomi yang lebih luas di wilayah yang mereka kuasai dan berupaya menggulingkan pemerintah Yaman.

Halaman Selanjutnya

Setelah Houthi menguasai ibu kota Sanaa serta wilayah Yaman bagian utara dan barat, Arab Saudi terus mendukung pemerintah Yaman yang bertahan di wilayah selatan.