Rosan Beberkan Tantangan Indonesia Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen |Republika Online
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengungkap sejumlah tantangan yang harus dihadapi Indonesia untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengungkap sejumlah tantangan yang harus dihadapi Indonesia untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029. Salah satu kebutuhan utama yang disoroti Rosan ialah pemenuhan target investasi lebih dari Rp 13.000 triliun dalam lima tahun ke depan.
Ia mengatakan target investasi tersebut diberikan Bappenas kepada Kementerian Investasi dan Hilirisasi dalam rangka mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029. Kebutuhan investasi tersebut menjadi tantangan di tengah perubahan kondisi geopolitik dan geoekonomi global.
"Lima tahun ke depan, target investasi dalam rangka kita memenuhi pertumbuhan 8 persen, itu adalah Rp 13.000 triliun lebih dalam lima tahun ke depan," kata Rosan saat membuka Investor Daily Summit 2026, di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Ia mengatakan kondisi perekonomian global saat ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan berada di sekitar 3 persen pada 2026 dan meningkat menjadi sekitar 3,4 persen pada tahun berikutnya.
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia masih mampu menjaga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,46 persen pada semester pertama 2026. Namun, Rosan menilai peningkatan investasi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.
Tokoh yang juga CEO Danantara ini mengungkapkan kontribusi investasi terhadap perekonomian Indonesia kini telah meningkat menjadi sekitar 38 hingga 39 persen. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya kontribusinya masih berada di kisaran 28 hingga 29 persen.
Realisasi investasi juga terus meningkat. Pada 2024, realisasi investasi mencapai sekitar Rp 1.714 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp 1.913 triliun pada 2025. Pada semester pertama 2026, realisasi investasi telah mencapai Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen.
Menurut Rosan, tantangan berikutnya ialah memastikan investasi yang masuk memiliki kualitas dan memberikan dampak terhadap perekonomian. Investasi tidak cukup hanya menghasilkan aliran modal, tetapi juga harus menciptakan lapangan kerja berkualitas dan mendorong keberlanjutan ekonomi.
Ia mencatat investasi pada 2025 menciptakan sekitar 2,4 juta lapangan kerja. Sementara itu, realisasi investasi pada semester pertama 2026 telah menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung, belum termasuk tenaga kerja pendukung dan aktivitas investasi lainnya.
Tantangan lain, kata Rosan, ialah meningkatkan kontribusi hilirisasi dan industrialisasi. Saat ini kontribusi investasi hilirisasi telah mendekati 30 persen dari total investasi, meningkat dari sekitar 25 persen sebelumnya.
Rosan mengatakan pemerintah perlu memperluas hilirisasi tidak hanya di sektor mineral, tetapi juga perkebunan, kelautan, dan sektor lainnya. Menurut dia, hilirisasi pada akhirnya harus menghasilkan industrialisasi yang memperkuat struktur ekonomi Indonesia.
"Karena ujungnya hilirisasi itu apa? Ujungnya hilirisasi adalah industrialisasi. Kita meyakini apabila kita tidak mempunyai industri yang kuat, Indonesia tidak akan mempunyai pertumbuhan perekonomian yang berkesinambungan dan berkelanjutan," ujar dia.