RSUD Dr Soetomo tunggu hasil lab dugaan keracunan 178 peserta PPDS
Surabaya (ANTARA) - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo Surabaya menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sampel makanan untuk memastikan penyebab munculnya gejala yang dialami 178 peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Airlangga (Unair).
"Jadi sesuai dengan standar rumah sakit, ya kita melakukan investigasi dan melakukan penanganan pada pasien yang bersangkutan. Kemudian, melakukan pemeriksaan atau pengamanan pada dugaan makanan tersebut untuk diperiksa di laboratorium Labkesmas, kemudian BPOM, dan Polda," kata Direktur RSUD Dr Soetomo, Cita Rosita Sigit Prakoeswa di Surabaya, Selasa.
Cita mengatakan rumah sakit langsung melakukan investigasi dan penanganan terhadap peserta yang mengalami gejala, sekaligus mengamankan sampel makanan untuk diperiksa di sejumlah laboratorium dan instansi terkait.
Dari 289 peserta yang mengikuti kegiatan prapendidikan (Pradik) PPDS, sebanyak 178 orang dilaporkan mengalami gejala, terdiri atas 172 peserta PPDS dan enam tenaga cleaning service.
Sebanyak enam orang sempat menjalani observasi di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dr Soetomo. Sebagian peserta yang menjalani observasi telah diperbolehkan pulang, termasuk satu tenaga cleaning service.
Cita menegaskan gejala yang muncul setelah peserta mengonsumsi makanan belum dapat menjadi dasar untuk memastikan sumber masalah sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
"Namanya dugaan belum pasti, ya. Jadi dugaan itu adalah ada gejala, kemudian ada makanan yang dimakan, kemungkinan itu dugaan, dan tentu kita menunggu hasil dari laboratorium," ujarnya.
Kegiatan Pradik PPDS berlangsung di RSUD Dr Soetomo, karena rumah sakit tersebut merupakan Rumah Sakit Pendidikan Utama Unair. Sementara itu, makanan untuk peserta disediakan oleh Fakultas Kedokteran (FK) Unair melalui penyedia atau vendor dari luar kampus.
Menurut Cita, peserta mengikuti kegiatan sesuai jadwal, sehingga tidak ada konsumsi makanan lain di luar makanan yang disediakan dalam kegiatan tersebut. Namun, tidak semua peserta mengonsumsi jenis makanan yang sama, termasuk peserta yang menjalani pola makan vegetarian.
"Kalau yang vegetarian malah aman cuma makan telur sama nasi sama sayur. Jadi ya mungkin, mungkin itu daging, tapi tentu saja kita tidak bisa memastikan sebelum ada laboratorium," katanya.
Unair memastikan kondisi peserta PPDS menjadi prioritas setelah munculnya dugaan kejadian tersebut.
Koordinator Bidang Media dan Branding Pusat Hubungan Masyarakat dan Protokol (PHMP) Unair, Gesang Manggala Nugraha Putra mengatakan pihaknya juga memastikan proses pendidikan peserta tidak terganggu.
Untuk sementara, kegiatan Pradik yang dijadwalkan berlangsung hingga 2 Oktober diliburkan pada hari kejadian. Keputusan mengenai kelanjutan kegiatan berikutnya akan dibahas oleh pimpinan universitas.
"Kami memastikan bahwa proses akademik pasti akan berlanjut dan kami akan memfasilitasi seluruh mahasiswa PPDS agar proses akademiknya tidak sampai terhambat," ujar Gesang.
Terkait dugaan sumber keracunan, Unair juga belum mengambil kesimpulan dan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum menentukan langkah lebih lanjut.
"Kami dari Humas Universitas Airlangga belum mendapatkan informasi terkait dengan tindak lanjut yang dilakukan kepada penyedia, nggih. Tapi, tentunya kami juga tidak berani mengambil langkah gegabah, kami akan tetap menunggu hasil laboratorium," katanya.
Gesang kembali meminta semua pihak menahan diri dan tidak menyimpulkan penyebab kejadian sebelum hasil pemeriksaan keluar.
"Jadi memang bijaknya kita semua menahan diri, menunggu hasil yang objektif dari laboratorium," katanya.
Sebagai informasi, dugaan keracunan tersebut terjadi pada Senin (28/9) saat peserta mengikuti kegiatan Pradik PPDS FK Unair.