Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (12/8/2026) ditutup melemah 16 poin ke level Rp17.877 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, rupiah sempat menguat 15 poin ke posisi Rp17.846 sebelum kembali tertekan pada akhir perdagangan.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (13/8). Namun, mata uang Garuda berpotensi kembali ditutup melemah di rentang Rp17.870-Rp17.940 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah salah satunya berasal dari ketegangan yang masih berlanjut antara AS dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Aktivitas pelayaran di jalur tersebut masih minim karena belum terdapat kemajuan berarti dalam upaya AS dan Iran mencapai kesepakatan. Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian pasar setelah Washington menyatakan telah menyerang sebuah kapal di Teluk Oman yang diduga sedang menuju Iran.

"Teheran sebelumnya mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali Washington memenuhi tuntutan ganti rugi mereka, tuntutan yang ditolak keras oleh Presiden AS Donald Trump," ujar Ibrahim.

Selat Hormuz menjadi salah satu sumber ketidakpastian utama bagi pasar minyak global. Sebelum konflik pecah, jalur tersebut merupakan rute penting yang memasok sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Selain itu pelaku pasar juga tengah menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Rabu waktu setempat, yang kemudian akan disusul data harga produsen atau Producer Price Index (PPI) pada Kamis.

“Angka yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan, sementara angka yang lebih tinggi dapat memicu kembali ekspektasi kenaikan suku bunga,” katanya.

Daya Beli Masyarakat

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kondisi daya beli masyarakat. Penjualan ritel Indonesia tercatat turun 3% secara tahunan pada Juni 2026. Meski masih terkontraksi, penurunan tersebut membaik dibandingkan kontraksi 3,9% pada bulan sebelumnya dan menjadi penurunan paling ringan sejak kontraksi dimulai pada April.

Selain itu, Ibrahim menyoroti posisi utang pemerintah pusat yang hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp10.293,69 triliun. Angka tersebut setara dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 41,26%. Utang tersebut terdiri atas penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 8.966,79 triliun dan pinjaman sebesar Rp 1.326,90 triliun.

Sentimen domestik lainnya berasal dari agenda pengumuman hasil August 2026 Index Review oleh MSCI. Berdasarkan jadwal resmi, daftar saham yang ditambah maupun dihapus dari indeks akan dipublikasikan setelah pukul 23.00 Central European Summer Time (CEST) pada 12 Agustus 2026 atau sekitar pukul 04.00 WIB pada 13 Agustus 2026.

Perubahan hasil review tersebut akan diterapkan setelah penutupan perdagangan 31 Agustus dan mulai efektif pada 1 September 2026. Ibrahim mengingatkan investor untuk membedakan antara tanggal pengumuman dan tanggal implementasi. Reaksi harga saham dapat muncul segera setelah hasil review diumumkan, sedangkan transaksi penyesuaian portofolio yang mengikuti indeks biasanya lebih terasa menjelang penutupan perdagangan pada tanggal implementasi.