Sebanyak 1.685 layangan memeriahkan Mel Tanjung Kite Festival di Sanur Bali
Denpasar (ANTARA) - Sebanyak 1.685 layangan berbagai jenis tradisional dan kreasi memeriahkan Mel Tanjung Kite Festival (MTKF) XVII Tahun 2026 di kawasan Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, Bali, Minggu.
Festival yang digelar ST. Eka Dharma, Banjar Tanjung, Desa Sanur Kauh, tersebut secara resmi dibuka Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, ditandai dengan menarik layangan di kawasan pantai sebelum dilanjutkan dengan menyaksikan perlombaan.
Pembina Mel Tanjung Kite Festival I Wayan Mariyana Wandhira mengatakan MTKF tahun ini mengusung tema “Bhumi Samudra Akasa Sanggama", menggambarkan keharmonisan antara darat, laut, dan udara sebagai fondasi lahir dan lestari budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Pelaksanaan kegiatan ini merupakan wahana untuk memberikan ruang gerak kepada para pelayang agar dalam bermain layangan tetap mengedepankan rasa tanggung jawab serta meningkatkan rasa kebersamaan di antara generasi muda dan masyarakat pelayang pada khususnya,” ujarnya.
Dia menjelaskan MTKF XVII menjadi salah satu ruang bagi masyarakat mempertahankan keberadaan layangan tradisional di tengah perkembangan zaman.
Layangan, katanya, tidak hanya permainan, namun juga menjadi bagian aktivitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Untuk menarik minat berbagai kalangan, panitia menghadirkan sejumlah kategori perlombaan. Kategori yang dipertandingkan meliputi remaja dan dewasa dengan jenis layangan tradisional maupun kreasi.
Sejumlah layangan tradisional yang dilombakan, antara lain Bebean, Bebean Big Size, Janggan, Janggan Buntut, Janggan Buntut Big Size, Pecuk, serta layangan mini. Panitia juga menghadirkan seri layangan plastik dan celepuk.
Khusus layangan tradisional, peserta diwajibkan menggunakan kain dengan corak warna Bali, yakni merah, kuning, hitam, dan putih. Ketentuan tersebut menjadi salah satu cara mempertahankan karakter visual layangan tradisional Bali dalam setiap perlombaan.
Peserta MTKF XVII berasal dari sekaa (perkumpulan remaja), klub, maupun perorangan.
Dengan total 1.685 layangan yang ambil bagian, festival ini sekaligus menunjukkan bahwa aktivitas melayangan masih memiliki basis peminat yang kuat di tengah masyarakat.
Wandhira mengatakan kegiatan tersebut digelar selama tiga hari. Memasuki perjalanan tahun ke-17, pihaknya berkomitmen menjaga kualitas penyelenggaraan sekaligus meningkatkan profesionalitas festival.
“Yang terpenting, dalam 17 tahun perjalanan Mel Tanjung Kite Festival, kami berkomitmen untuk terus profesional dan meningkatkan kualitas kegiatan setiap tahunnya,” katanya.
Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa mengapresiasi konsistensi pelaksanaan MTKF yang telah menjadi agenda rutin tahunan.
Pemkot Denpasar akan terus memberikan dukungan terhadap kegiatan yang menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat.
Menurutnya, tradisi layangan memiliki keunikan yang dapat dikembangkan tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya.
“Tentu kami sangat mendukung dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini sebagai wahana ekspresi dan kreativitas budaya bagi para pelayang yang dikenal sebagai rare angon,” ujarnya.
Menurutnya, layangan tradisional merupakan salah satu potensi budaya masyarakat yang memiliki ciri khas tersendiri. Aktivitas tersebut juga dapat mendorong lahirnya berbagai kreativitas dan inovasi baru di kalangan masyarakat.
Baca juga: Menikmati tarian alun di langit Kota Mataram
Selain menjadi hiburan, Arya Wibawa menilai, tradisi itu dapat dikembangkan sebagai bagian dari atraksi budaya yang mendukung pariwisata berbasis budaya di Bali, khususnya Kota Denpasar.
Ia berharap MTKF dapat terus berkembang dan konsisten digelar pada tahun-tahun berikutnya. Tidak hanya dari sisi jumlah peserta maupun kualitas perlombaan, tetapi juga dalam memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mempertahankan tradisi itu.
Dengan demikian, keberadaan 1.685 layangan dalam MTKF XVII tidak sekadar menjadi bagian dari sebuah perlombaan, tetapi juga menjadi gambaran bahwa tradisi layangan masih memiliki tempat di tengah masyarakat dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pewarta : Rolandus Nampu
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026