Sebelum Beli Shockbreaker KW, Kenali Tiga Risiko yang Mengintai
Penggunaan shockbreaker berkualitas rendah juga dapat berdampak langsung terhadap kenyamanan pengendara.
Jika suspensi terlalu kaku dan tidak mampu meredam guncangan dengan baik, benturan dari jalan berlubang atau permukaan jalan bergelombang akan terasa lebih keras. Getaran tersebut dapat lebih banyak diteruskan ke bodi motor dan pengendara.
Dalam penggunaan jangka panjang, paparan guncangan berulang tentu dapat membuat tubuh lebih cepat lelah dan memicu rasa tidak nyaman, termasuk pada bagian punggung.
Risiko lainnya berkaitan dengan traksi ban belakang.
Shockbreaker memiliki peran menjaga roda tetap mengikuti kontur permukaan jalan. Jika karakter redamannya tidak sesuai, roda belakang bisa lebih mudah memantul ketika motor melewati jalan bergelombang.
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kontak ban dengan permukaan aspal. Ketika traksi berkurang, kestabilan motor juga dapat terganggu, terutama saat melewati tikungan atau berkendara di permukaan jalan yang tidak rata.
Dalam kondisi tertentu, hilangnya traksi dapat meningkatkan risiko motor oleng hingga tergelincir.
Material Lebih Cepat Rusak dan Rentan Mengalami Kebocoran
Shockbreaker bekerja dengan intensitas tinggi. Komponen ini terus mengalami gerakan naik dan turun ketika motor digunakan, sehingga material di dalamnya harus mampu menghadapi gesekan, tekanan, dan temperatur kerja.
Pada komponen orisinal, pabrikan menggunakan material yang telah disesuaikan dengan kebutuhan sistem suspensi. Salah satunya adalah seal yang berfungsi menjaga oli hidrolik tetap berada di dalam tabung sekaligus melindungi bagian internal dari kontaminasi.
Oli hidrolik yang digunakan juga memiliki karakteristik tertentu agar mampu bekerja secara konsisten ketika suspensi mengalami perubahan tekanan dan temperatur.
Sementara itu, kualitas material pada shockbreaker imitasi sangat bergantung pada produsennya. Produk dengan material dan proses produksi yang kurang baik berpotensi mengalami penurunan performa lebih cepat.
Salah satu masalah yang dapat muncul adalah kebocoran oli. Ketika oli hidrolik berkurang, kemampuan shockbreaker dalam meredam gerakan suspensi ikut menurun.
Pada akhirnya, pemilik motor justru berpotensi mengeluarkan biaya tambahan karena harus mengganti kembali komponen yang bermasalah.