Serangan ke pangkalan tersebut tidak hanya menewaskan dua prajurit, tetapi juga menyebabkan satu tentara dilaporkan hilang dan empat lainnya mengalami luka-luka hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan insiden itu menjadi korban jiwa pertama personel militer AS akibat serangan langsung Iran sejak perang pecah. Secara keseluruhan, sejak konflik dimulai tercatat 16 tentara Amerika tewas dan lebih dari 430 lainnya mengalami luka-luka.

AS Klaim Serangan Ditujukan Lumpuhkan Kemampuan Iran

Militer AS menegaskan serangan udara terbaru bukan hanya sebagai aksi balasan atas kematian tentaranya, tetapi juga bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

CENTCOM menyebut operasi yang berlangsung untuk malam ketujuh secara berturut-turut itu menghantam berbagai sasaran strategis, mulai dari fasilitas pengawasan militer, infrastruktur logistik, gudang penyimpanan senjata bawah tanah, hingga kemampuan maritim Iran. Menurut Washington, penghancuran fasilitas-fasilitas tersebut diperlukan untuk mengurangi kapasitas militer Iran sekaligus menjaga keamanan jalur distribusi energi global yang melintasi Selat Hormuz.

Iran Ancam Beri "Pelajaran Tak Terlupakan"

Beberapa saat sebelum AS mengumumkan serangan udara, Pemimpin Tertinggi Iran melontarkan peringatan keras kepada Washington. Dalam pesan yang disiarkan televisi pemerintah, Teheran menegaskan Amerika akan menerima "pelajaran yang tak terlupakan" apabila terus melancarkan serangan ke wilayah Iran.

Iran juga mengumumkan penghentian pelaksanaan komitmennya dalam kesepakatan sementara yang disepakati sekitar sebulan lalu untuk mengakhiri pertempuran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan keputusan tersebut diambil karena AS dinilai telah melanggar isi perjanjian. Menurutnya, Iran tidak lagi memiliki kewajiban untuk menjalankan kesepakatan tersebut. Hingga kini belum ada perkembangan baru mengenai upaya mediasi internasional guna meredakan konflik.

Infrastruktur Sipil Ikut Jadi Korban

Pertempuran yang berpusat di sekitar Selat Hormuz kini mulai menimbulkan dampak serius terhadap infrastruktur sipil di kawasan Teluk.

Di Kuwait, serangan Iran dilaporkan menghantam fasilitas penyulingan air laut (desalinasi) dan instalasi minyak. Serangan itu memicu kebakaran, melukai sejumlah pekerja, serta menyebabkan beberapa unit pembangkit listrik berhenti beroperasi.

Ini merupakan serangan kedua terhadap fasilitas desalinasi Kuwait dalam dua hari terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sekitar 90 persen kebutuhan air bersih negara itu bergantung pada teknologi desalinasi.

Ancaman rudal juga memaksa pemerintah Kuwait menutup sementara wilayah udaranya. Maskapai Kuwait Airways kemudian menjadwal ulang sebagian besar penerbangan dari dan menuju ibu kota sebagai langkah antisipasi.

Negara-Negara Teluk Tingkatkan Kewaspadaan

Ketegangan turut menyebar ke berbagai negara di kawasan Teluk.

Pemerintah Irak mengaku berhasil menembak jatuh sejumlah drone penyerang di wilayah Irbil. Di Yordania, sistem pertahanan udara dilaporkan mencegat rudal Iran yang melintas di wilayah negaranya.

Sementara itu, sirene peringatan serangan udara beberapa kali berbunyi di Bahrain, sedangkan Arab Saudi mengaktifkan sistem peringatan dini pada Sabtu pagi sebagai langkah antisipasi terhadap potensi serangan.

Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Mohamed Al-Budaiwi, mengecam tindakan Iran dan menuduh Teheran melakukan kejahatan perang karena menyerang infrastruktur sipil serta fasilitas vital di negara-negara Teluk.

Iran Akui Infrastruktur Energi Jadi Sasaran

Di sisi lain, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan udara AS menghantam fasilitas listrik dan instalasi desalinasi di Provinsi Hormozgan.

Kantor berita IRNA menyebut fasilitas desalinasi Bonji hancur sehingga sekitar 10.000 warga kehilangan pasokan air bersih. Fasilitas serupa di Pulau Qeshm juga dilaporkan mengalami kerusakan.

Serangan udara juga merusak dua terowongan dan beberapa jembatan menuju Bandar Abbas, pelabuhan utama Iran yang berada di dekat Selat Hormuz. Kerusakan tersebut mengganggu akses transportasi menuju salah satu kawasan paling strategis di negara itu.

Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, pemerintah Iran mengakui adanya serangan terhadap infrastruktur kelistrikan. Kementerian Energi Iran bahkan mengimbau masyarakat di provinsi-provinsi selatan agar mengurangi penggunaan listrik di tengah cuaca panas ekstrem.

Menurut otoritas Iran, sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka akibat serangan udara AS selama tiga pekan terakhir.

Sumber: Indiatoday