Salma Laiqa,  CNBC Indonesia

18 September 2026 16:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Terumbu karang dunia berada di bawah tekanan yang semakin berat. Suhu laut yang terus meningkat dan air laut yang semakin asam membuat kondisi perairan semakin jauh dari lingkungan ideal bagi karang.

Masalah tidak berhenti di sana. Polusi mendorong pertumbuhan alga yang dapat menghambat perkembangan karang, sementara penangkapan ikan berlebihan mengurangi berbagai spesies yang selama ini berperan menjaga keseimbangan ekosistem terumbu.

Selama ini perhatian banyak tertuju pada hilangnya ikan pemakan alga atau predator yang menjaga populasi hewan pemakan karang. Namun, penelitian terbaru menunjukkan ada penghuni dasar laut lain yang ternyata punya peran tidak kalah penting yakni teripang atau sea cucumber.

Teripang (kelas Holothuroidea). (ullstein bild via Getty Images)Teripang (kelas Holothuroidea). (ullstein bild via Getty Images) Foto: (ullstein bild via Getty Images)

Mengutip The Economist, Cody Clements dan Mark Hay dari Georgia Institute of Technology menemukan bahwa keberadaan teripang dapat membantu menciptakan kondisi perairan yang lebih mendukung pertumbuhan sejumlah jenis karang.

"Pembersih" Dasar Laut

Teripang merupakan kerabat bulu babi dan bintang laut. Hewan bertubuh lunak berbentuk silinder tersebut hidup dengan memakan sedimen dasar laut, mencerna material organik di dalamnya, kemudian mengeluarkan kembali pasir yang telah diproses.

Aktivitas yang terlihat sederhana itu ternyata mempunyai fungsi ekologis penting. FAO mencatat teripang berperan dalam mendaur ulang nutrien sekaligus menjaga kesehatan sedimen di berbagai habitat laut.

Ilustrasi teripang. (Instagram/lokapkpekanbaru)Ilustrasi teripang. (Instagram/lokapkpekanbaru) Foto: Ilustrasi teripang. (Instagram/lokapkpekanbaru)

Eksperimen laboratorium juga menunjukkan bahwa teripang dapat mengubah kimia air laut di sekitarnya. Hewan ini antara lain menghasilkan amonia dan ion karbonat yang berpotensi memberikan manfaat bagi karang.

Amonia mengandung nitrogen yang dapat dimanfaatkan alga simbiotik yang hidup bersama hewan pembentuk karang. Alga tersebut kemudian menyediakan sebagian besar nutrisi yang dibutuhkan inangnya.

Sementara itu, ion karbonat membantu mengurangi tingkat keasaman di lingkungan sekitar. Secara teori, kombinasi keduanya menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi pertumbuhan karang.

Karang Bisa Tumbuh 41% Lebih Cepat

Untuk menguji teori tersebut, Eksperimen dilakukan di perairan Mo'orea, Polinesia Prancis.

Dalam percobaan awal, para peneliti menempatkan karang di dalam 20 kandang di sekitar terumbu. Dua ekor teripang hitam kemudian dimasukkan ke separuh kandang, sedangkan sisanya dibiarkan tanpa teripang.

Setelah 38 hari, tidak terlihat perbedaan berarti pada pertumbuhan karang.

Para peneliti kemudian mengulangi eksperimen menggunakan 24 kandang dengan jumlah teripang yang ditingkatkan menjadi empat ekor dalam setiap kandang perlakuan.

Hasilnya berubah signifikan. Dua dari tiga spesies karang yang diuji tumbuh lebih cepat ketika hidup bersama teripang. Pertumbuhan salah satu spesies meningkat sekitar 17%, sedangkan Acropora pulchra, salah satu jenis karang bercabang yang terancam, tumbuh sekitar 41% lebih cepat.

Temuan tersebut memperkuat indikasi bahwa hilangnya teripang dari sebuah ekosistem tidak hanya berarti berkurangnya satu jenis biota laut, tetapi juga dapat berdampak terhadap organisme lain yang bergantung pada kondisi dasar laut yang sehat.

Penelitian sebelumnya dari tim Georgia Tech juga menemukan fungsi lain. Ketika teripang dihilangkan dari lingkungan terumbu, kematian jaringan pada Acropora pulchra meningkat lebih dari tiga kali lipat dan risiko kematian seluruh koloni melonjak hingga 15 kali lipat. Para peneliti menduga teripang membantu membersihkan sedimen dari mikroorganisme yang dapat memicu penyakit pada karang.

Di tengah perannya bagi ekosistem laut, teripang juga terus menghadapi tekanan penangkapan. Data FAO menunjukkan tangkapan teripang dunia mencapai sekitar 39 ribu ton pada 2024, turun dari 42 ribu ton pada 2022 dan 2023.

Angka tersebut memang jauh lebih kecil dibandingkan tangkapan sejumlah komoditas laut utama yang dapat mencapai ratusan ribu hingga jutaan ton per tahun. Namun, tekanan terhadap teripang tetap menjadi perhatian karena sejumlah spesies memiliki pertumbuhan relatif lambat dan memainkan peran penting bagi kesehatan ekosistem dasar laut.

Indonesia Punya Kepentingan Besar

Temuan tersebut relevan bagi Indonesia. Teripang bukan hanya bagian dari ekosistem pesisir, tetapi juga komoditas perikanan bernilai ekonomi yang telah lama diperdagangkan.

Studi Fisheries Research pada 2024 mencatat sedikitnya 55 spesies teripang telah dikonfirmasi dipanen secara komersial di Indonesia. Penelitian terhadap 4.553 individu di 23 lokasi dari Indonesia barat hingga timur juga menemukan mayoritas teripang yang diamati berukuran relatif kecil, yang mengindikasikan tekanan penangkapan cukup tinggi.

Tekanan tersebut penting diperhatikan karena teripang banyak hidup di habitat seperti zona intertidal, padang lamun hingga terumbu karang. Studi Frontiers in Marine Science yang meneliti ekosistem terumbu karang di Pulau Jawa juga menemukan sejumlah spesies teripang bernilai ekonomi yang perdagangan internasionalnya diatur melalui CITES.

Di sisi lain, permintaan terhadap teripang masih tetap ada. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2026 menunjukkan teripang masih termasuk komoditas perikanan Indonesia yang diekspor ke China. Secara keseluruhan, ekspor hasil perikanan Indonesia ke negara tersebut pada 2025 mencapai sekitar 479 ribu ton dengan nilai US$1,2 miliar.

Kondisi tersebut menunjukkan posisi teripang yang unik. Di satu sisi, hewan laut ini memiliki nilai ekonomi bagi sektor perikanan. Di sisi lain, keberadaannya ikut menopang kesehatan sedimen, siklus nutrien, hingga ekosistem terumbu karang.

Artinya, pengelolaan teripang secara berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan menjaga stok komoditas, tetapi juga mempertahankan biodiversitas dan daya tahan ekosistem pesisir di tengah tekanan perubahan iklim dan aktivitas manusia.

(slm/slm)