Universitas Amir Hamzah wisuda 169 lulusan, Prof OK Saidin : Dunia hari ini bergerak maju di luar apa yang kita perkirakan - ANTARA News Sumatera Utara
Medan (ANTARA) - Universitas Amir Hamzah melepas 169 sarjana dari empat fakultas melalui prosesi wisuda periode September yang digelar di Medan, Sabtu (12/9).
Hadir pada acara wisuda itu Ketua Pembina Yayasan Universitas Tengku Amir Hamzah Sultan Negeri Serdang Tuanku Drs. Tuanku Ahmaa Thala’a Al Haj ibni Tuanku Abu Nawar Sinar Al Haj dan Sekretaris Yayasan Datuk Seri Adil Freddy Haberham, SE.
Hadir juga Ketua Badan Pengawas Yayasan Universitas Tengku Amir Hamzah: Tengku Osman Amal Ganda Wahid Ibni Tuanku Azmy Perkasa Alam dan fungsionaris Yayasan Universitas Tengku Amir Hamzah yang lain yaitu Rizky Fauzan ibni Prof,Dr.Chainur Arrasid dan Tengku Zulkarnain ibni Tengku Mahmudin,
Tepat pada pukul 09.00 WIB rombongan prosesi memasuki ruangan upasara diiringi lagu Gaudeamus Igitur.
Rektor Universiytas Amir Hamzah Prof.Dr.Tarmizi, membuka sidang Terbuka Universitas dengan acara tunggal Wisuda Sarjana.
Tampak di barisan prosesi Wakil Rektor Bidang Akademik Dr.Lela Erwani, SH.M.Hum di dampingi Prof.Dr.H.OK.Saidin, SH.M.Hum selaku Ketua Umum Yayasan yang juga Guru Besar pada Fakultas Hukum Hukum Universityas Sumatera Utara.
Serta seluruh Dekan dan Wakil Dekan di lingkungan Universitas Amir Hamzah, duduk pada barisan depan. Pada barisan belakang duduk Para Anggota Senat Universitas dan Senat Fakultas serta Para Ketua Lembaga dan Ketua Program Studi.
Selain itu hadir juga para alumni Universitas Amir Hamzah antara lain Zamri Riduan, SE,MM.
Ketua Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, Prof.Dr.Bahdin Nur Tanjung, SE,MM dalam pidatonya menyatakan bahwa kehadiran Universitas Amir Hamzah yang sudah berusia 47 tahun ini telah memberikan sumbangan dan kontribusinya kepada dunia pendidikan di negeri ini.
Tak ada perbedaan antara lulusan Universitas Amir Hamzah dengan lulusan universitas lainnya, termasuk lulusan universitas negeri.
Semua sarjana yang diluluskan oleh perguruan tinggi memiliki derajat yang setara. Yang membedakan adalah ketajaman dan kecerdasan para alumni dalam menyerap ilmu pengetahuan selama mengikuti Pendidikan dan bagaimana kemudian ia dapat menerapkan ilmu yang ia peroleh di lingkungan kerjanya.
Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Wilayah I Sumatera Utara Dr.Isa Indrawan dalam sambutannya menegaskan bahwa Universitas Amnir Hamzah didirikan oleh tokoh-tokoh masyarakat Melayu yang kala itu dimotori oleh kalangan akademisi yang ingin menyumbangkan ilmu bagi peradaban bangsa.
Dalam pidatonya, Isa Indrawan menegaskan para alumni jangan berhenti menuntut ilmu, karena sarjana bukan akhir dari proses belajar tapi awal untuk memasuki dunia pembelajaran yang sesungguhnya.
Oleh karena itu ia menekankan pentingnya akhlak dalam menghadapi persaingan global agar para sarjana bisa beradaptasi dengan dunia luar kampus sesungguhnya.
Sementara Prof.OK. Saidin dalam orasinya menegaskan, tidak semua orang mendapat kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan dengan gelar sarjana.
Bahkan di negara-negara dunia ketiga masih banyak orang yang tidak dapat menyelesaikan studinya sampai ke jenjang pendidikan SLTA. Oleh karena itu, keberhasilan saudara para wisudawan/wisudawati hari ini pantas untuk disyukuri.
"Dunia hari ini bergerak maju di luar apa yang kita perkirakan," kata OK.Saidin.
Kemajuan teknologi informasi yang diikuti dengan penggunaan sistem internet dan platform digital membuat dunia berada dalam perubahan besar.
Era Disruption sedang bergerak dengan tampilnya peran Artificial Intelligence yang menggantikan peran manusia.
Banyak toko-toko yang tutup. Model-model hubungan bisnis konvesinonal, cara kerja teknologi dan mesin, semua mengalami perubahan. Perubahan teknologi terjadi dengan cepat. Kecerdasan buatan mengubah cara kita bekerja dan berpikir. Persaingan global semakin ketat. Dalam situasi ini, kemampuan beradaptasi menjadi kunci penting.
Transaksi keuangan tak lagi harus pergi ke bank, membaca berita tak lagi harus membeli koran, membaca buku tak harus lagi ke toko buku, menanda tangani akta tak harus lagi berhadapan secara fisik dengan notaris.
Bahkan jika kita ingin makan sesuatu, cukup dengan menekan tombol atau aplikasi pada smartphone yang ukurannya tak lebih besar dari telapak tangan.Dunia kini berada dalam genggaman.
Membuat berita, membuat skripsi, thesis,bahkan disertasi, cukup menggunakan aplikasi Chat GPT. Membuat film, mebuat tarian,mebuat lagu, tak perlu lagi harus di menggunakan piano, gitar, dan alat-alat musik lainnya.
Cukup duduk di depan laptop dengan menggunakan algotitma tertentu, karya dikehendaki sudah tercipta.
Menghadapi perubahan semacam itu tentu lulusan sarjana harus memiliki kepekaan. Tak cukup hanya dengan berbekal ilmu yang sudah diperoleh hari ini.
Dunia hari ini menghendaki tidak saja orang-orang yang berilmu, tetapi orang-orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi, berakhlak dan beradab dan memiliki inetgritas moral.
Oleh karena itu OK.Saidin mendorong agar para wisudawan wisudawati untuk menjaga integritas. Dunia kerja penuh dengan tekanan dan godaan untuk mengambil jalan pintas. Namun, reputasi yang baik dibangun dari kejujuran dan konsistensi, bukan dari cara instan, tegasnya.
Pengaruh kapitalis global yang dihembuskan oleh negara-negara industri maju dan Indonesia tidak dapat tidak berada di dalamnya, mau tidak mau, suka tidak suka turut pula dalam pertarungan itu.
Mesin-mesin perang dan senjata pemusnah massal telah mewarnai situasi dunia kita pada hari ini. Kerusakan lingkungan akibat Kebakaran Hutan bencana alam yang bertubi-tubi hampir setiap hari mewarnai belahan bumi telah menjadikan bumi tak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk kita tinggali.
Kita hidup hari ini dipenuhi dengan rasa kecurigaan yang tinggi antar sesama kita dan bahkan banyak di antara kita yang tidak lagi bisa saling mempercayai. Keintiman dalam persahabatan dan solidaritas dalam bernegara kadang-kadang menjadi semu dan selalu dibayang-bayangi rasa ketakutan yang berlebihan. Terutama ketika warga kehilangan kepercayaan tentang kemampuan negara untuk melindungi warganya.
Penegakan hukum yang kian hari, kian tak pasti. Bukan karena norma dan institusinya tidak lengkap, tapi hari ini kita berhadapan dengan akhlak dan etika penegakan hukum.
Demikian juga dari segi ekonomi, hari ini terasa menurunnya kekuatan daya beli masyarakat, menyebabkan situasi stabilitas keamanan dalam negeri di banyak negara menghambat pertumbuhan investasi yang pada gilirannya dunia kerja tak lagi mampu menampung angka Angkatan kerja yang kian hari kian bertambah.
Di sinilah pentingnya kreativitas para lulusan sarjana yang mampu menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang sesulit apapun guna bisa bertahan dan sekaligus menerobos situasi yang kian hari kian sulit ini.
Para sarjana dengan bekal keilmuannya harus mampu melakukan terobosan-terobosan baru yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sektor-sektor pekerjaan konvensional seperti menjadi pegawai negeri, pegawai BUMN dan lain sebagainya.
Selain itu penting juga bagi lulusan sarjana untuk menjaga integritas dalam rangka penguatan jati dirinya.
Perguruan Tinggi tak cukup mampu untuk mengajarkan jati diri dan karakter, tak cukup mampu untuk mengajarkan akhlak, tak cukup mampu untuk mengajarkan adab, akan tetapi itu tetaplah bahagian penting untuk saudara para wisudawan/wisudawati lekatkan dalam diri saudara dalam menghadapi hari-hari saudara ke depan.
Kehadiran kecerdasan buatan hari ini telah mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, dan belajar. Masalahnya, teknologi ini berkembang lebih cepat daripada kerangka etika yang mengaturnya.
Deepfake, misinformasi otomatis, dan manipulasi algoritmik adalah contoh nyata dari kesenjangan ini. Sistem hukum dan pendidikan moral belum siap merespons kecepatan perubahan ini secara sistematis.
Ibnu Miskawaih, dalam karyanya Tahdzib al-Akhlaq, menekankan bahwa akhlak terbentuk melalui kebiasaan berulang dalam lingkungan tertentu.
Persoalannya, lingkungan digital saat ini tidak stabil. Algoritma media sosial dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan, bukan pembentukan karakter. Kebiasaan yang terbentuk dari interaksi digital sering kali bertentangan dengan nilai kesabaran, kejujuran, dan empati yang menjadi inti akhlak mulia.
Globalisasi mempertemukan berbagai sistem nilai dalam satu ruang interaksi. Generasi muda kini menghadapi paparan langsung terhadap norma yang berbeda dari nilai yang mereka pelajari di rumah. Hal ini memicu relativisme moral, yaitu anggapan bahwa semua standar moral bersifat setara dan tidak ada yang lebih benar dari yang lain.
Aristoteles, dalam teori etika kebajikan atau virtue ethics, menegaskan bahwa kebajikan bukan sekadar aturan yang dihafal, melainkan disposisi karakter yang terlatih melalui praktik konsisten. Relativisme moral melemahkan proses ini karena individu kehilangan rujukan tetap untuk melatih karakter. Akibatnya, keputusan moral menjadi situasional dan mudah berubah sesuai tekanan sosial atau tren yang sedang berlaku.
Adab mengalami tekanan besar akibat pergeseran ruang interaksi dari tatap muka ke digital. Komunikasi daring cenderung mengurangi empati karena minimnya isyarat non-verbal seperti nada suara dan ekspresi wajah.
Fenomena ini terlihat jelas dalam meningkatnya perundungan siber, ujaran kebencian, dan hilangnya kesantunan dalam diskusi publik di media sosial.
Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menempatkan adab sebagai jembatan antara ilmu dan amal.
Tanpa adab, ilmu justru bisa menjadi alat kesombongan. Dalam konteks masa depan, generasi yang menguasai teknologi tetapi lemah dalam adab berisiko menggunakan pengetahuan mereka tanpa pertimbangan dampak sosial dan psikologis terhadap orang lain.
Kurikulum pendidikan formal umumnya berfokus pada capaian akademik dan keterampilan teknis. Pendidikan akhlak, etika, dan adab sering diposisikan sebagai mata pelajaran tambahan, bukan sebagai fondasi utama.
Pendekatan ini tidak sejalan dengan temuan psikologi pendidikan yang menunjukkan bahwa karakter terbentuk melalui pembiasaan lintas konteks, bukan hanya melalui hafalan materi di kelas.
Institusi pendidikan perlu mengintegrasikan pembentukan karakter ke dalam seluruh proses pembelajaran, bukan menjadikannya sesi terpisah yang mudah diabaikan. Tanpa integrasi ini, kesenjangan antara pengetahuan moral dan penerapan moral akan terus melebar.
Lembaga pendidikan perlu merancang kurikulum yang menghubungkan akhlak, etika, dan adab secara eksplisit dengan situasi digital nyata. Diskusi tentang privasi data, disinformasi, dan etika penggunaan kecerdasan buatan harus masuk ke dalam pembelajaran karakter, bukan hanya pembelajaran teknis.
Keluarga tetap menjadi ruang pembentukan akhlak yang paling awal dan paling menentukan. Orang tua perlu memahami pola interaksi digital anak agar dapat membimbing pembentukan kebiasaan secara konsisten, bukan hanya membatasi akses teknologi.
Tegulator dan pengembang teknologi perlu mempertimbangkan dampak etis dari desain produk digital. Algoritma yang dirancang untuk keterlibatan maksimal perlu diimbangi dengan mekanisme yang mendukung interaksi yang sehat secara sosial dan moral.
Akhlak, etika, dan adab bukan konsep yang usang di tengah kemajuan teknologi. Justru sebaliknya, ketiganya menjadi semakin relevan karena kompleksitas tantangan yang dihadapi manusia terus meningkat.
Tantangan masa depan bukan hanya soal penguasaan teknologi, tetapi juga soal kemampuan menjaga karakter, penalaran moral, dan kesantunan sosial di tengah perubahan yang berlangsung cepat.
Pendekatan yang sistematis dan konsisten dalam pendidikan karakter menjadi kunci untuk menjawab tantangan ini secara nyata, bukan sekadar wacana normatif.
Pewarta: Juraidi
Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.