Universitas Tadulako luncurkan Berani Magaya percepat eliminasi tuberkulosis

Sabtu, 22 Agustus 2026 13:08 WIB

Image Print

Universitas Tadulako bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah meluncurkan Berani Magaya untuk mendukung percepatan eliminasi tuberkulosis di Palu, Sabtu (22/8/2026). ANTARA/Nur Amalia Amir

Palu (ANTARA) - Universitas Tadulako (Untad) di Palu, Sulawesi Tengah, meluncurkan Program Berani Magaya (Berantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga) dalam mendukung percepatan eliminasi tuberkulosis (TB) di daerah itu.

“Kita membangun komitmen bersama untuk eliminasi tuberkulosis. TB bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan saja, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” kata Rektor Universitas Tadulako Prof. Amar pada peluncuran Program Berani Magaya di Palu, Sabtu.

Ia mengatakan perguruan tinggi diharapkan hadir memberikan solusi nyata bagi persoalan kesehatan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, pengabdian, dan pemberdayaan masyarakat.

Sebagai bentuk kontribusi tersebut, kata dia, Untad bersama konsorsium perguruan tinggi se-Sulawesi Tengah yang tergabung dalam KITA Sulteng berkomitmen menjadikan kampus sebagai bagian dari solusi percepatan eliminasi TB.

Ia mengatakan Berani Magaya menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai insan akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan dan pendamping bagi masyarakat.

“Program ini menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai insan akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan dan pendamping bagi masyarakat,” ujarnya.

Program ini melibatkan 1.073 mahasiswa dan 155 dosen dari tujuh perguruan tinggi se-Sulawesi Tengah. Kolaborasi ini, lanjut dia, membuktikan bahwa kekuatan perguruan tinggi dapat digerakkan secara bersama untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat.

Ia mengatakan program tersebut dilaksanakan dengan melibatkan berbagai perguruan tinggi di bawah koordinasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVI.

Wilayah sasaran tahap awal meliputi Kota Palu, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai, dan Kabupaten Tolitoli.

Ia mengatakan program Berani Magaya diarahkan untuk memberikan dampak langsung kepada pasien TB dan keluarganya melalui pendampingan, edukasi, pemantauan kepatuhan pengobatan, serta pencegahan penularan.

Ia berpesan kepada mahasiswa dan dosen yang terlibat agar melakukan pendampingan dengan empati, kesabaran, menjaga kerahasiaan, dan tanpa stigma.

“Edukasi keluarga ini juga menjadi penting, kepatuhan pengobatan dan pencegahan penularan. Jadilah jembatan antara keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan bagi semua peserta terlibat,” ujarnya.

Menurut dia, TB dapat disembuhkan apabila ditangani dan diobati secara tepat sehingga masyarakat tidak boleh mengucilkan pasien.

“TB dapat disembuhkan apabila ditangani dan diobati secara tepat. Ini stigma yang harus dikembangkan. Karena itu, jangan mengucilkan pasien, karena yang harus kita lawan adalah penyakitnya, bukan orangnya,” katanya.

Rektor mengatakan sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, mahasiswa, keluarga, dan masyarakat perlu terus diperkuat untuk mendukung eliminasi TBC.

Ia berharap Berani Magaya tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial dan akademik yang berkelanjutan.

Ia mengatakan Sulawesi Tengah diharapkan dapat menjadi salah satu contoh nasional bagaimana perguruan tinggi bergerak bersama masyarakat untuk mempercepat eliminasi TB menuju Indonesia Bebas TB 2030.

Pada peluncuran ini juga dihadiri oleh Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, Wakil Menteri Kementerian Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) RI Fauzan.

Pewarta : Nur Amalia Amir
Editor: Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026