Waduh, Kemenkes Sebut Banyak Anak SD Punya Gula Darah Tinggi
CNN Indonesia
Jumat, 31 Jul 2026 11:15 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkap temuan yang mengkhawatirkan. Kini, semakin banyak anak usia sekolah dasar (SD) yang diketahui memiliki kadar gula darah tinggi, sebuah kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit kronis ketika mereka masuk usia dewasa.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan indikasi tersebut telah ditemukan dalam berbagai pemantauan kesehatan. Padahal, anak-anak seharusnya memiliki kadar gula darah yang normal mengingat aktivitas fisik mereka relatif tinggi.
"Anak-anak SD itu kadar gula darahnya sudah tinggi. Kita telah temui indikasi awalnya, padahal seharusnya itu pada anak-anak kan kadar gula darahnya normal, aktivitasnya banyak," kata Nadia mengutip Detik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini menjadi peringatan bahwa konsumsi gula pada anak perlu mendapat perhatian serius. Menurut Nadia, pemerintah harus segera memperkuat berbagai kebijakan untuk mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak sejak usia dini.
"Kalau kita tidak melakukan segera policy-policy untuk menjaga konsumsi atau melakukan pengendalian gula, garam, lemak, ya dari tren anak-anak kita saja sudah kelihatan seperti ini," ujarnya.
Batas normal gula darah pada anak
Kadar gula darah normal pada anak berbeda-beda sesuai kelompok usia. Secara umum, rentangnya meliputi:
• Anak di bawah usia 6 tahun: sekitar 100-200 mg/dL.
• Anak usia 6-12 tahun: sekitar 70-150 mg/dL.
• Remaja di atas 12 tahun: di bawah 140-180 mg/dL.
Jika kadar gula darah berada di atas batas yang seharusnya, anak perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya serta mendapatkan penanganan yang tepat.
Risiko penyakit kronis saat dewasa
Nadia mengingatkan, kadar gula darah yang tinggi sejak masa kanak-kanak bukan hanya meningkatkan risiko diabetes, tetapi juga dapat memicu berbagai penyakit serius di kemudian hari. Menurutnya, paparan gula darah tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal.
"Jika dari kecil saja gula darahnya sudah tinggi, maka dalam usia 40 tahun, dia (berpotensi) akan terkena (penyakit) jantung, stroke, ginjal. Karena teorinya, gula itu kan memengaruhi pembuluh darah," kata Nadia.
Ia menambahkan, masih banyak masyarakat yang menganggap diabetes hanya berkaitan dengan komplikasi seperti luka atau pembusukan pada kaki. Padahal, dampak penyakit ini jauh lebih luas karena dapat merusak pembuluh darah di seluruh tubuh.
"Dulu kita kan pikir kalau orang jantung, stroke, (terjadi pada) orang yang hipertensi saja. Tapi sekarang ternyata orang dengan sakit DM (Diabetes Melitus) itu bisa terkena serangan jantung. Penyakit gula itu adalah mother of disease ya," ujarnya.
Karena itu, Nadia menekankan pentingnya membiasakan pola makan sehat sejak anak-anak, membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta mendorong aktivitas fisik secara rutin. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan risiko penyakit tidak menular yang kini mulai muncul pada usia yang semakin muda.
Baca selengkapnya di sini.
(tis/tis)
[Gambas:Video CNN]