Jakarta -

Banyak masyarakat masih menganggap diabetes identik dengan konsumsi obat atau suntik insulin seumur hidup. Padahal, menurut pakar diabetes (diabetologist) sekaligus Founder mGanik dr Kelvin Candiago, pemahaman tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Anggapan ini kerap terjadi pada pengidap diabetes tipe 2 yang erat kaitannya dengan gaya hidup. Hal ini disampaikan dr Kelvin saat menjadi narasumber dalam program detikPagi.

Menurut dr Kelvin, fenomena yang kini semakin sering ia temui adalah meningkatnya kasus diabetes pada usia produktif, bahkan di rentang usia 20-an tahun. Sayangnya, banyak dari mereka merasa sudah menjalani gaya hidup sehat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada yang rutin bermain padel atau pergi ke gym, tetapi pola makannya masih kurang tepat. Ada pula yang sudah mengurangi minuman manis, namun sering begadang, jarang bergerak, dan memiliki jadwal makan yang tidak teratur.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, kebiasaan yang tidak teratur ini dapat memicu resistensi insulin, yaitu kondisi ketika tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal sehingga gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan.

Kondisi ini menjadi semakin relevan mengingat jumlah penyandang diabetes di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), Indonesia memiliki sekitar 20,4 juta pengidap diabetes dan menempati peringkat kelima dunia dengan jumlah kasus terbanyak.

Namun menurut dr Kelvin, yang paling perlu diwaspadai sebenarnya bukan sekadar angka kasus diabetes, melainkan komplikasi yang muncul ketika penyakit ini tidak ditangani dengan baik.

"Yang ditakuti dari diabetes itu komplikasinya. Padahal sebelum itu terjadi, mereka sudah mengalami diabetes yang panjang dulu," jelas dr Kelvin, dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2026).

"Karena diabetes itu menyerang pembuluh darah, dan mereka nggak merasakan gejala apa-apa," sambungnya.

Faktanya, 90-95% penderita diabetes adalah tipe 2, yang biasanya dipicu oleh gaya hidup, sehingga kondisi ini makin sering ditemukan pada anak muda. Kabar baiknya, diabetes tipe 2 sebenarnya bisa dicegah, bahkan dihentikan, dengan memperbaiki pola hidup, pola makan, dan aktivitas sehari-hari.

"Trick yang biasanya saya sampaikan ke pasien, paling nggak di setiap makanan, jumlah karbohidrat atau tambahan gulanya dikurangi. Perbanyak protein, cukupi serat, karbohidratnya dibatasi," saran dr Kelvin.

"Kalau mau snack atau dessert, taruh di akhir saja biar nggak berlebihan," sambungnya.

Lebih jauh, dr Kelvin menjelaskan harapan untuk lepas dari obat ini bukan tanpa dasar ilmiah. Sejak 2019, American Diabetes Association (ADA) sudah memperkenalkan istilah diabetes remission atau remisi diabetes.

Kondisi ini terjadi ketika kadar gula darah pasien dapat kembali terkontrol dalam periode tertentu tanpa bantuan obat penurun gula darah.

Salah satu indikator yang digunakan adalah HbA1c, yaitu pemeriksaan yang menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam tiga bulan terakhir. Pasien dikategorikan mencapai remisi apabila HbA1c berada di bawah 6,5% secara konsisten selama minimal tiga bulan, tanpa bantuan obat penurun gula darah.

Untuk membantu pasiennya mencapai remisi, dr Kelvin membangun mGanik dengan 3 Pendekatan: Medikasi, Nutrisi, dan Monitoring. Pendekatan ini dijalankan berdasarkan kondisi masing-masing pasien, yaitu dengan mengikuti perkembangan HbA1c, memberi arahan dalam mengatur pola makan, sampai monitoring rutin.

Bagi dr Kelvin, yang terpenting bukan seberapa besar perubahan yang dilakukan oleh pengidap diabetes, namun konsistensinya.

"Jangan putus asa, karna pasti ada jalannya. Percaya aja harus kasih perubahan di pola makan, ikutin saran-saran dari dokternya," kata dr Kelvin.

"Dengan perubahan sedikit tapi konsisten itu pasti sangat bermanfaat," pungkasnya.

(hnu/ega)