Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan akan melakukan percepatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi (migas) di tengah gejolak geopolitik yang menyebabkan meroketnya harga minyak dunia.

“Kami memastikan ada percepatan eksplorasi. Nanti juga akan kami berikan kemudahan-kemudahan,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot ketika ditemui setelah acara ziarah di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan terdapat dua cara untuk melakukan eksplorasi, yakni eksplorasi yang dilakukan oleh pemerintah dan eksplorasi yang dilakukan oleh badan usaha.

Yuliot menyampaikan pemerintah telah memetakan sejumlah lapangan migas dengan potensi produksi sekitar 2.500–3 ribu barel per hari yang akan digenjot prosesnya pada 2027 dan 2028.

Dengan demikian, lanjut dia, pemerintah dapat segera merealisasikan target 1 juta barel minyak per hari pada tahun 2029–2030 untuk mewujudkan swasembada energi nasional.

“Eksplorasi dan eksploitasi ini kami akan genjot pada tahun 2027 dan 2028 sehingga target kita 1 juta barel itu bisa tercapai,” kata Yuliot.

Yuliot mengatakan berbagai langkah percepatan tersebut merupakan respons pemerintah terhadap gejolak geopolitik yang menyebabkan naiknya harga minyak dunia. Kementerian ESDM mencatat harga minyak dunia sempat menyentuh 107 dolar AS per barel pada akhir September 2026.

“Karena sebagian besar energi kita yang untuk crude (minyak mentah) itu masih impor, tentu kita harus melihat sumber dalam negeri bagaimana kita meningkatkannya,” ucap Yuliot.

Diwartakan sebelumnya, Iran ingin AS kembali pada nota kesepahaman yang dicapai pada Juni lalu, di mana mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan rencana untuk memulai perundingan nuklir, dengan imbalan sejumlah langkah, termasuk keringanan sanksi, pencairan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan di luar negeri, serta penghentian blokade AS.

Namun, pejabat AS mengatakan Presiden AS Donald Trump tidak lagi ingin kembali pada kesepakatan tersebut. AS juga memperketat sanksi dan mempertahankan blokadenya atas Iran.

Para mediator mendesak Iran memberikan konsesi terkait program nuklirnya dalam upaya menghidupkan kembali negosiasi gencatan senjata dengan Amerika Serikat.

Menurut laporan The Wall Street Journal, seperti dikutip Anadolu pada Senin, inisiatif dari pihak penengah itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menolak usulan Iran soal gencatan senjata selama tujuh hari guna membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri blokade AS terhadap pelabuhan Iran.

Para mediator menilai hal itu sebagai upaya, yang peluang keberhasilannya tipis, untuk mendorong Iran mengambil langkah terkait program nuklir. Sejauh ini, Iran belum menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka siap membahas masalah itu.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: ESDM lakukan percepatan eksplorasi migas di tengah gejolak geopolitik

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.