Suhu Panas Menggila! 105 Danau Es Pakistan Mencair, Banjir Mengintai
Zhafa Yuda Rehema, CNBC Indonesia
29 September 2026 15:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah danau gletser yang mencair di Pakistan meningkat tajam dalam waktu kurang dari dua bulan.
Badan antariksa Pakistan, Space and Upper Atmosphere Research Commission (Suparco), mencatat jumlah danau tersebut melonjak dari 40 menjadi 105 berdasarkan citra satelit pada Juli-Agustus 2026.
Peningkatan ini terjadi di tengah suhu musim panas yang mempercepat pencairan es di wilayah pegunungan Pakistan. Namun, tutupan awan yang persisten setelah laporan Juli membuat perubahan luas sejumlah danau sulit diukur secara akurat.
Saif-ul-Maluk Lake. (Pexels) Foto: Saif-ul-Maluk Lake. (Pexels)
Danau Gletser Meluas, Risiko Banjir Mengintai
Lonjakan jumlah danau gletser menjadi perhatian karena danau-danau tersebut dapat menampung air dalam jumlah besar. Risiko semakin tinggi ketika luas danau melampaui batas maksimum historisnya.
Kondisi tersebut dapat mengindikasikan peningkatan volume air dan tekanan terhadap moraine dam, yakni bendungan alami dari timbunan batuan dan sedimen di sekitar gletser.
Jika bendungan alami itu runtuh, air dapat mengalir deras ke wilayah di bawahnya dan memicu Glacial Lake Outburst Flood (GLOF), atau banjir akibat jebolnya danau gletser.
Suparco mencatat sebanyak 131 danau masuk kategori Potentially Dangerous Glacial Lakes (PDGLs), yaitu danau gletser yang berpotensi membahayakan.
Pemantauan satelit akan terus dilakukan selama musim pencairan untuk mendeteksi perluasan danau serta tanda-tanda peningkatan risiko GLOF.
Ancaman banjir semakin kompleks karena Pakistan juga tengah menghadapi musim monsun, periode ketika perubahan pola angin musiman membawa curah hujan tinggi.
Musim monsun telah memicu kerusakan luas, sementara pencairan gletser dan meluasnya danau berpotensi menambah ancaman banjir di wilayah hilir.
Satelit Saja Dinilai Belum Cukup
Pemantauan dari luar angkasa dinilai perlu dilengkapi penelitian langsung di lapangan.
Karamat Ali, ahli glasiologi dari Karakoram International University, mengatakan kurangnya koordinasi antarinstansi membuat informasi mengenai bentuk gletser, kondisi mikroklimat, serta perubahan massa es pada musim panas dan dingin masih terbatas.
Dengan jumlah gletser mencapai lebih dari 13.000, Pakistan memiliki salah satu konsentrasi gletser terbesar di luar kawasan kutub. Menurut Ali, sejumlah karakteristik gletser tidak dapat diverifikasi hanya melalui citra satelit.
Penelitian lapangan diperlukan untuk mempelajari kondisi gletser, lingkungan sekitarnya, serta end moraine, yakni timbunan material di ujung gletser yang dapat menjadi bagian dari bendungan alami danau.
Kenaikan suhu mempercepat pencairan gletser dan berpotensi memperluas danau hingga memicu banjir bandang ke wilayah hilir.
Dampaknya tidak hanya mengancam masyarakat di sekitar pegunungan, tetapi juga infrastruktur, lahan pertanian, dan layanan penting di sepanjang jalur aliran air.
Bagi Pakistan, perubahan danau gletser menjadi salah satu indikator bagaimana kenaikan suhu di kawasan pegunungan dapat meningkatkan risiko bencana bagi jutaan orang yang bergantung pada ekosistem dan sumber air dari gletser.tersebut.
Mohammad Saleem Shaikh, juru bicara Kementerian Perubahan Iklim dan Koordinasi Lingkungan Pakistan, mengatakan kepada Dawn setelah penilaian Suparco pada Juli bahwa kenaikan suhu yang cepat di kawasan Hindu Kush-Karakoram-Himalaya secara mendasar mengubah kondisi kriosfer Pakistan, yakni wilayah yang terdiri atas es dan salju.
Kenaikan suhu tersebut mempercepat pencairan gletser dan meningkatkan risiko GLOF serta berbagai bencana lain yang dipicu perubahan iklim.
Menurutnya, pencairan gletser pada awalnya memang meningkatkan ketersediaan air. Namun, pemanasan yang tidak terkendali memperluas danau gletser yang tidak stabil dan dapat jebol tanpa peringatan, memicu banjir dahsyat yang mengancam masyarakat di wilayah hilir, infrastruktur publik, lahan pertanian, serta layanan penting.
"Ilmu pengetahuan telah menunjukkan dengan sangat jelas bahwa kenaikan suhu mengubah ekosistem pegunungan Pakistan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap kenaikan suhu, sekecil apa pun, meningkatkan risiko bagi masyarakat yang tinggal di wilayah hilir," ujar Shaikh, kepada Down.
Karena itu, ia menegaskan respons terhadap ancaman tersebut harus berbasis sains, didukung teknologi, dan diterjemahkan menjadi tindakan tepat waktu untuk melindungi kehidupan, mata pencaharian, serta infrastruktur penting.
Pengalaman Pahit Masa Lalu
Pakistan pernah mengalami banjir akibat jebolnya danau gletser (Glacial Lake Outburst Flood/GLOF). Bencana ini bukan sekadar ancaman potensial, melainkan sudah beberapa kali terjadi, terutama di kawasan pegunungan Pakistan bagian utara.
Banjir GLOF terjadi ketika air yang tertampung di danau gletser tiba-tiba meluap atau bendungan alami dari es, batuan, dan sedimen runtuh. Air dapat mengalir deras ke wilayah hilir, membawa lumpur, batu, dan puing-puing.
(mae/mae)