REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) berkomitmen menghadirkan layanan transportasi massal yang semakin dapat diandalkan, terjangkau, dan memiliki konektivitas lebih luas. Komitmen itu disampaikan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelang peringatan HUT ke-81 KAI di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (25/9/2026).

"Kami berusaha menghadirkan transportasi massal yang semakin reliable, semakin murah dan tentunya semakin banyak konektivitasnya," kata Bobby.

Menurut dia, masih terdapat banyak hal yang harus ditingkatkan dan dibenahi memasuki usia ke-81 KAI. Transformasi layanan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kualitas perjalanan, tetapi juga pembaruan sarana serta penguatan keselamatan penumpang dan masyarakat.

Sejumlah rangkaian kereta, mulai KRL hingga kereta antarkota, kini telah menggunakan sarana baru. Pembaruan tersebut diharapkan meningkatkan kenyamanan sekaligus menjawab pertumbuhan kebutuhan masyarakat terhadap angkutan massal.

Tantangan itu semakin besar seiring meningkatnya jumlah pengguna. Sepanjang Januari-Juli 2026, KAI Group melayani 307,86 juta pelanggan atau tumbuh 8,32 persen. KAI Commuter menyumbang 242,93 juta pelanggan, sedangkan kereta jarak jauh dan lokal yang dikelola KAI melayani 35,26 juta pelanggan.

Pertumbuhan tersebut membuat keandalan layanan tidak cukup hanya diukur dari kenyamanan di dalam kereta. Keselamatan perjalanan, kesiapan sumber daya manusia, kondisi infrastruktur, penggunaan teknologi, serta pengelolaan risiko menjadi semakin penting ketika jumlah perjalanan dan penumpang terus bertambah.

Salah satu titik yang masih menjadi perhatian adalah perlintasan sebidang. KAI mencatat 1.214 titik perlintasan yang telah dipetakan berdasarkan tingkat risiko, terdiri atas 43 lokasi berisiko tinggi, 630 berisiko sedang, 538 berisiko rendah, dan tiga lokasi berkategori sangat rendah.

KAI menetapkan 190 titik sebagai prioritas peningkatan keselamatan pada 2026. Penanganannya mencakup penyediaan gardu, rambu, perangkat keselamatan dan komunikasi, petugas perlintasan tersertifikasi hingga tahapan pemasangan pintu perlintasan.

Bobby mengatakan pemasangan pintu pada perlintasan sebidang yang belum dijaga menjadi salah satu langkah yang terus dilakukan. Namun, pembangunan fasilitas fisik harus berjalan bersamaan dengan peningkatan disiplin masyarakat.

KAI karena itu terus mengingatkan pengendara untuk tidak menerobos ketika pintu perlintasan telah ditutup. "Menerobos pintu perlintasan tentu dapat membahayakan keselamatan perjalanan KA," kata Bobby.

Data terbaru memperlihatkan besarnya tantangan tersebut. Hingga 31 Juli 2026, KAI mencatat 151 kecelakaan di perlintasan sebidang, turun 11 persen dibandingkan 170 kejadian pada periode pembanding 2025. Sebanyak 131 orang menjadi korban, termasuk 59 orang meninggal dunia.

Persoalan terbesar justru berasal dari perilaku pengguna jalan. Dari 151 kecelakaan tersebut, 132 kejadian atau sekitar 87 persen disebabkan tindakan menerobos perlintasan. Sebanyak 12 kejadian berkaitan dengan kendaraan mogok, sedangkan tujuh lainnya terkait palang pintu yang terlambat atau tidak tertutup.

sumber : Antara