Kapolda Kalteng optimalkan penanganan karhutla di Kotim
Kapolda Kalteng optimalkan penanganan karhutla di Kotim
Selasa, 4 Agustus 2026 16:29 WIB
Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan saat meninjau karhutla di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 8 Sampit-Palangka Raya, Selasa (4/8/2026). ANTARA/Devita Maulina.
Sampit (ANTARA) - Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan mengoptimalkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), melalui pengecekan langsung ke sejumlah lokasi kebakaran, patroli udara hingga memperkuat koordinasi lintas instansi.
"Hari ini saya melaksanakan kegiatan pengecekan penanganan karhutla di wilayah Sampit. Sebelumnya kami melaksanakan patroli udara memantau titik-titik hotspot dan lokasi kebakaran, sehingga kondisi di lapangan terlihat dengan sangat jelas," kata Iwan Kurniawan di Sampit, Selasa.
Dalam kunjungan tersebut, Kapolda Kalteng didampingi Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain, Bupati Kotim Halikinnor, serta unsur Satuan Tugas Siaga Bencana Karhutla dan Bencana Kekeringan Kabupaten Kotawaringin Timur Tahun 2026.
Hasil pemantauan udara menunjukkan jumlah titik panas di Kotim terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang diterima saat kunjungan berlangsung, terdapat sekitar 61 titik panas, namun lokasi yang benar-benar mengalami kebakaran tercatat berada di lima titik.
Salah satunya di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 8 arah Sampit-Palangka Raya yang ia pantau secara langsung. Ia juga berkunjung ke Posko Kontingensi Aman Nusa II 2026 Penanggulangan Karhutla di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 3 arah Sampit-Pangkalan Bun.
Iwan Kurniawan menyebutkan, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena kemampuan personel dan sarana pemadaman harus disesuaikan dengan luas wilayah terdampak sehingga diperlukan strategi yang tepat agar penanganan berjalan efektif.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Bupati, Kapolres, BPBD dan seluruh satgas untuk menentukan teknik pemadaman. Karena keterbatasan sarana dibandingkan banyaknya titik kebakaran, maka kami harus menentukan prioritas lokasi yang lebih dahulu dipadamkan," ujarnya.
Selain mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki daerah, kepolisian juga mendukung langkah Pemkab Kotim yang telah mengajukan permohonan bantuan kepada BPBD Kalteng berupa operasi water bombing, guna mempercepat pemadaman melalui jalur udara.
Menurut Iwan, seluruh potensi yang tersedia akan dikerahkan agar kebakaran tidak semakin meluas, mengingat kondisi musim kemarau diperkirakan masih berlangsung cukup panjang dengan risiko meningkat akibat pengaruh fenomena El Nino.
Di sisi lain, pentolan Polda Kalteng itu menegaskan penanganan karhutla tidak hanya dilakukan melalui upaya pemadaman, tetapi juga dibarengi penegakan hukum terhadap pihak yang diduga menjadi penyebab kebakaran.
Saat ini kepolisian telah menetapkan satu tersangka kasus pembakaran hutan dan lahan di Kotim. Sementara sejumlah kasus lainnya masih dalam proses penyelidikan untuk memastikan penyebab kebakaran serta pihak yang bertanggung jawab.
Iwan Kurniawan berharap seluruh pihak dapat meningkatkan kewaspadaan mengingat berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September sehingga potensi karhutla masih cukup tinggi.
"Saya berharap jangan sampai berkembang lagi masalah karhutla ini dan itu perlu upaya kita bersama. Apalagi, prakiraan puncak musim kemarau itu Agustus atau September dan itu masih panjang, belum lagi fenomena El Nino yang membuat situasi kemarau semakin kering," pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan kunjungan Kapolda memberikan arahan langsung terkait langkah penanganan karhutla, termasuk saat meninjau lokasi kebakaran di Jalan Tjilik Riwut yang masih memperlihatkan kobaran api di tepi jalan.
"Beliau melihat langsung kondisi di lapangan, karena saat ini memang titik hotspot kita tertinggi di Kalimantan Tengah, tetapi yang terbakar ada lima lokasi dan semuanya sedang kami padamkan," ujarnya.
Baca juga: Polres Kotim tetapkan satu tersangka pembakar lahan
Halikinnor menjelaskan tantangan terbesar saat ini adalah karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan, sementara ketersediaan air semakin terbatas akibat kemarau panjang. Sejumlah embung dan saluran air yang biasanya dimanfaatkan untuk pemadaman bahkan telah mengering.
Dia pun mengajak seluruh elemen masyarakat ikut berperan aktif mencegah munculnya kebakaran baru dengan segera memadamkan api ketika masih berukuran kecil serta tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.