Keluarga jurnalis sebut tali asih BUMN bentuk empati dan kebersamaan - ANTARA News Bangka Belitung
Jakarta (ANTARA) - Sejumlah keluarga dari jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda menyampaikan tali asih yang diterima dari BP BUMN merupakan bentuk empati dan kebersamaan yang diberikan oleh BUMN.
“Bantuan ini menurut saya tidak hanya berupa materi, ya, tetapi bentuk dukungan dan juga bentuk kebersamaan,” ujar istri jurnalis ANTARA M Bagus Khoirunas, Desi Purnamasari, ketika ditemui setelah acara “Penyerahan Tali Asih Kepada Keluarga Korban Erupsi Gunung Anak Krakatau” yang digelar di Gedung BP BUMN Jakarta, Kamis.
Oleh karena itu, Desi mengucapkan terima kasih kepada BP BUMN sebagai inisiator dari acara tersebut.
Lebih lanjut, kebersamaan yang Desi rasakan melalui pemberian tali asih tersebut membuatnya tidak merasa sendirian dalam melalui keadaan berat pascahilang kontaknya dengan sang suami.
“Saya sebagai keluarga dari jurnalis, Muhammad Bagus Khoirunnas, saya sebagai istrinya, tentu merasa tidak sendirian. Karena kami sama-sama saling menguatkan,” ujar Desi.
Ia juga merasa kehadiran tali asih tersebut merupakan bentuk dukungan untuk keluarga yang masih menanti kabar agar terus kuat dan mampu melangkahkan kaki guna menata kehidupan ke depannya.
Sementara itu, istri jurnalis Merdeka.com Arie Basuki, Sri Damayanti, menyampaikan bersyukur atas perhatian yang diberikan dari BUMN yang terlibat dalam pemberian tali asih.
“Terima kasih banget semua dari BUMN yang sudah mau memperhatikan kami, berempati terhadap kami, pihak keluarga. Saya tidak bisa berkata apa-apa, saya sangat terharu,” ujar Yanti.
Baca juga: ANTARA apresiasi tali asih jurnalis-ABK yang hilang di Selat Sunda
Adapun sejumlah perusahaan yang terlibat dalam pemberian tali kasih, yakni LKBN ANTARA, Antara ETP, Peruri, AirNav, Jasa Tirta I, Jasa Tirta II, Pelindo, ASDP, Jasa Marga dan PTPN IV.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan harapannya agar pencarian terhadap jurnalis dan ABK yang belum ditemukan dapat kembali dilanjutkan. Yanti masih menggantungkan harapannya bahwa sang suami terdampar di sebuah pulau bersama teman-temannya.
“Kami berharap pencarian itu dapat dilanjutkan supaya kami dari keluarga mendapat kepastian,” kata Yanti.
Meskipun masih berharap Mansyur menyampaikan keikhlasannya apabila harus menerima kemungkinan terburuk terkait kabar anaknya.
“Kalau bisa, ya, ada keajaibanlah. Sebelum menerima yang terburuk. Tetapi kalau terjadi yang terburuk, saya ikhlas,” ucap Mansyur.
Sebanyak delapan orang rombongan kapal cepat KM Arupadatu I dilaporkan hilang kontak pada Senin (7/9) siang pukul 14.00 WIB, ketika melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Adapun delapan orang tersebut terdiri atas lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunas (jurnalis Kantor Berita ANTARA), Ari Basuki (jurnalis Merdeka.com), Yudhistiro (jurnalis iNews), Firdaus (jurnalis Anadolu) dan Donal (jurnalis lepas).
Sedangkan tiga lainnya, yakni Warta (kapten kapal), Surakman (ABK), serta Heriyanto (pemandu).
Kemudian, pada Sabtu (12/9) Basarnas Bengkulu menerima laporan adanya penemuan mayat tanpa identitas di kawasan Pesisir Sawang Bengkok Desa Khayapu Pulau Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Pada Rabu (23/9), Kepolisian Daerah (Polda) Banten mengungkapkan bahwa hasil pencocokan DNA antara sampel antemortem terhadap jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, identik dengan identitas Surakman atau Sukarman (60).
Pewarta: Putu Indah Savitri
Uploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.