Pakar: Budaya Sunda perkuat konservasi satwa di Indonesia - ANTARA News Jawa Barat
Sumedang (ANTARA) - Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, mengatakan nilai-nilai budaya Sunda dapat menjadi fondasi dalam memperkuat konservasi satwa di Indonesia melalui pendekatan yang memadukan kearifan lokal, ilmu pengetahuan, dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian habitat.
Ganjar di Sumedang, Jawa Barat, Jumat, mengatakan konservasi tidak hanya berfokus pada perlindungan satwa, tetapi juga mencakup perlindungan dan pemulihan habitat, penguatan kelembagaan masyarakat, serta penyediaan sumber penghidupan yang tidak merusak alam.
"Budaya bekerja melalui bahasa, cerita, pantangan, ritual, teladan tokoh masyarakat, tata ruang, mekanisme musyawarah, serta pengetahuan mengenai musim, air, tanah, tumbuhan, dan perilaku satwa," katanya.
Dirinya menyebut keempat unsur tersebut harus berjalan beriringan agar konservasi dapat memberikan manfaat ekologis dan sosial secara berkelanjutan.
Ia mengatakan pendekatan budaya menjadi semakin penting di tengah meningkatnya ancaman terhadap keanekaragaman hayati Indonesia.
Berdasarkan kajian konservasi, terdapat 2.432 spesies berstatus terancam punah yang terdiri atas 1.381 spesies tumbuhan, 554 mamalia, dan 395 burung dengan laju kepunahan bahkan diperkirakan mencapai 100 hingga 1.000 kali lebih cepat dibandingkan laju kepunahan alami.
Ganjar menjelaskan pembelajaran konservasi perlu membawa masyarakat melalui tahapan Nyaho (tahu), Ngarti (mengerti), Bisa, Tuman (kebiasaan) ,hingga Ngajadi (karakter) agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menjadi karakter dalam kehidupan sehari-hari.
"Negara ini surplus pada tahap 'Nyaho', tetapi masih memerlukan metode agar masyarakat mencapai tahap 'Ngajadi', ketika konservasi menjadi bagian dari jati diri," ujarnya.
Ia menambahkan nilai budaya perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata melalui pengamatan satwa dan habitat, pemetaan kawasan, perlindungan mata air, penanaman vegetasi lokal, penghentian pemasangan jerat, pelaporan perdagangan satwa liar, hingga pelibatan sekolah, pesantren, dan masyarakat dalam pewarisan pengetahuan konservasi.
"Leuweung Hirup (hutan hidup), Urang Hurip (kita hidup). Miara Cai (memelihara air), Miara Hirup (memelihara kehidupan). Satwa Liar Lain Piaraan (bukan peliharaan). Nilai-nilai tersebut harus terus dihidupkan agar konservasi menjadi gerakan bersama masyarakat," kata Ganjar.
Ia menilai perpaduan budaya, ilmu pengetahuan, dan kebijakan konservasi menjadi strategi penting menghadapi periode 2026 hingga 2051 yang diproyeksikan sebagai fase penentu bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia.
Pewarta: Ilham Nugraha
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.