ILUSTRASI. Fintech, Pinjaman Online, Pinjol (KONTAN/Panji Indra)

Reporter: Ade Priyatin | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembiayaan melalui pinjaman daring (pindar) dinilai masih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mencermati, pindar kini makin banyak dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi seiring dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan cepat di tengah daya beli masyarakat yang masih tertekan.

Masyarakat saat ini tidak lagi banyak menggunakan pembiayaan untuk membeli barang dengan masa pakai panjang maupun kebutuhan produktif. Sebaliknya, pinjaman mulai digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari termasuk untuk kebutuhan makan.

"Masyarakat saat ini sudah dalam tahap matang atau makan utang, bukan lagi mantab atau makan tabungan," ujarnya kepada Kontan, Senin (31/8/2026).

Baca Juga: Ini Jurus Multifinance Jaga Kualitas Pembiayaan Agar Tetap Sehat

Kondisi ini terjadi karena sebagian masyarakat masih kesulitan mengakses pembiayaan dari perbankan. Alhasil, mereka beralih ke pembiayaan alternatif seperti pindar maupun layanan lain, yakni Buy Now Pay Later (BNPL).

Apalagi porsi pembiayaan konsumtif di industri pindar saat ini lebih besar dibandingkan dengan pembiayaan produktif.

Hingga Juni 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan pembiayaan pindar kepada sektor UMKM meningkat 23,25% secara tahunan. Jumlah tersebut mencangkup sekitar 33,41% dari total pembiayaan pindar yang pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp105,14 triliun.

Baca Juga: OJK Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp1.948 Triliun per Juni 2026

Meski pembiayaan produktif masih menunjukkan pertumbuhan positif, Nailul menilai kondisi usaha masih menunjukkan kinerja yang lesu, penurunan indeks ritel, dan konsumsi masyarakat melabat sehingga risiko pembiayaan UMKM semakin besar.

Karena itu, dari sisi kualitas pembiayaan pada sektor produktif pun memiliki risiko yang lebih besar.

Sejalan dengan itu, ia menilai perbaikan kualitas pembiayaan jauh lebih penting dibandingkan dengan penyaluran pembiayaan yang agresif. 

Dengan begitu, kualitas pembiayaan akan ikut serta membaik seiring dengan perbaikan kualitas penyaluran pembiayaan, baik konsumtif maupun produktif.

Baca Juga: Multifinance Optimistis Target Porsi Pembiayaan Produktif Berpeluang Tercapai

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News