Pemkab Barito Utara fokuskan penanganan karhutla di kecamatan risiko tinggi

Kamis, 3 September 2026 19:57 WIB

Image Print

Bupati Barito Utara Shalahuddin sampaikan paparan terkait karhutla pada rapat evaluasi pencegahan dan penanganan Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah di Aula Jayang Tingang, Palangka Raya, Kamis (3/9/2026). ANTARA/HO-Diskominfosandi Barito Utara

Palangka Raya (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, memfokuskan operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah memiliki tingkat risiko tinggi yakni Kecamatan Teweh Selatan, Teweh Baru dan Teweh Tengah.

"Sementara Kecamatan Montallat menjadi prioritas pencegahan dan deteksi dini karena memiliki jumlah hotspot tertinggi," kata Bupati Barito Utara Shalahuddin di Palangka Raya, Kamis.

Hal itu disampaikan dia pada rapat evaluasi pencegahan dan penanganan karhutla Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya bersama Gubernur Kalteng Agustiar Sabran.

Menurut dia, pemerintah daerah terus memperbarui penentuan wilayah prioritas berdasarkan perkembangan kejadian karhutla, hotspot, luasan terbakar, kondisi cuaca dan kondisi di lapangan.

Untuk mendukung penanganan, kata dia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Utara menyiapkan 150 personel yang terdiri dari 80 personel Pusdalops dan TRC serta 70 personel cadangan. Kekuatan tersebut diperkuat 45 regu Masyarakat Peduli Api (MPA), tiga Destana serta dukungan lintas sektor dari TNI/Polri, Manggala Agni, Damkar, KPHP dan dunia usaha.

Selain personel, BPBD juga menyiapkan 23 unit mobil tangki air, tujuh unit mobil rescue double cabin, satu unit mobil pick up, motor trail, serta berbagai peralatan pendukung pemadaman.

"Respons terhadap karhutla terus dilakukan melalui pemberian imbauan, pemadaman dini, patroli, operasi TRC, Pusdalops 24 jam selama tujuh hari serta koordinasi lintas sektor," ujar Shalahuddin.

“Daerah siap melakukan penanganan karhutla. Namun penguatan pos lapangan dan koordinasi lintas sektor diperlukan untuk meningkatkan kecepatan, jangkauan dan efektivitas respons,” tegas Shalahuddin.

Bupati Barito Utara menjelaskan, hingga 31 Agustus 2026, tercatat sebanyak 182 kejadian Karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 124,19 hektare. Sementara itu, berdasarkan pemantauan hotspot tercatat 405 titik.

“Barito Utara saat ini berada dalam status Siaga Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan,” kata Shalahuddin.

Status Siaga Darurat Karhutla tersebut ditetapkan selama 60 hari, terhitung mulai 1 Agustus hingga 29 September 2026. Pemkab Barito Utara juga telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 100.3.4/1144/BPBD/VIII/2026 tentang Instruksi Larangan Pembakaran Hutan dan Lahan di wilayah Kabupaten Barito Utara.

Pewarta : Kasriadi
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.